saritetep4

SEJARAH PERADABAN DAN PENCIPTAAN MANUSIA JAWA SEJARAH PERADABAN MANUSIA DI PULAU JAWA, KHUSUSNYA DI JAWA BARAT

Posted on: Januari 14, 2012

SEJARAH PERADABAN DAN PENCIPTAAN MANUSIA JAWA

SEJARAH PERADABAN MANUSIA DI PULAU JAWA, KHUSUSNYA DI JAWA BARAT

Peradaban merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah, dan maju. Misalnya perkembangan kesenian, iptek, kepandaian manusia, dan sebagainya dimana tiap bangsa di dunia memiliki karakter kebudayaan yang khas. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pendapat Koentjaraningrat(1990:182) dalam Nursyid(1996:67) sebagai berikut :“Disamping istilah “kebudayaan’ adapula istilah “peradaban”. Hal yang terakhir adalah sama dengan istilah Inggris civilization, yang biasanya dipakai untuk menyebutkan bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah, seperti misalnya: kesenian, ilmu pengetahuan , adat sopan santun pergaulan , kepandaian menulis, organisasi kenegaraan dan sebagainya. Istilah ‘peradaban” sering juga dipakai untuk menyebutkan suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan, da masyarakat kota yang maju dan kompleks.”

Pulau jawa secara administratif dibagi menjadi 3 bagian. Masing-masing bagian disebut provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tanah Jawa Barat secara geografis tak dapat dipisahkan dari pulau jawa secara keseluruhan. Berdasarkan penelitian peninggalan jaman prasejarah, asal usul penghuni yang pertama di Jawa Barat yaitu dengan ditemukan fosil-fosil pada lapisan-lapisan batu-batu kapur dan pada lapisan-lapisan laut pada zaman Pliocen (120.000 tahun – 600.000 tahun yang lalu). Meskipun kehadiran manusia purba di Jawa Barat masih merupakan perkiraan, namun hal ini diperkuat oleh ditemukannya bukti benda-benda sejarah berupa alat-alat yang diperkiraan pula berasal dari zaman yang sama. Benda tersebut berasal dari parigi dekat Pangandaran, Tasikmalaya dan di daerah Jambang. Daerah jawa barat pada kala yang sama telah dihuni oleh manusia Pithecanthropus Erectus da keturunannya. Namun demikian kemungkinan tentu tidak tertutup, bahwa daerah ini telah dihuni oleh manusia jenis lain.

  1. Zaman Paleolitik (Zaman Batu Tua)

Kebudayaan yang mempergunakan kapak batu genggam dinamakan kebudayaan paleolitik. Selain perkakasnya yang sederhana, penghidupan manusianya pun sangat sederhana. Mereka belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Mereka mendapatkan makanan tergantung pada hasil alam. Dengan demikian mereka itu adalah manusia pengumpul hasil alam (food gathering) atau manusia peramu.

Manusia yang hidup pada kala ini mungkin telah memakai pakaian tetapi pakaian mereka itu jenis dan bahannya sangat sederhana bahannya terbuat dari kulit kayu atau binatang.

  1. Zaman Mesolitik (Zaman Batu Tengahan)

Zaman mesolitik menurut perkiraan berkembang sejak lebih kurang sepuluh ribu sampai empat ribu tahun yang lampau. Jenis manusia yang hidup pada zaman misolitik terdiri dari jenis manusia Austro-Melanesoid.

Zaman mesolitik telah ditemukan batu-batu perkakas seperti pisau kecil alat penusuk, penggaruk dan lain-lain. Mereka tinggal didalam gua-gua dan mungkin pula mereka itu tinggal di tepi pantai atau ditepi danau. Mereka telah mulai hidup menetap walau dalam taraf peralihan.

  1. Zaman Neolitik (Zaman Batu Baru)

Zaman ini menurut perhitungan mulai berkembang di Indonesia pada 1500 tahun sebelum masei.

Kehidupan setengah menetap, berburu dan menangkap ikan sesudah melewati waktu yang lama mulai ditinggalkan orang. Namun kejadian ini berlaku secara bertahap dan berangsur-angsur, tidak sekaligus. Setelah itu manusia itu mulai hidup menetap, dan mereka mulai bercocok taman. Pada zaman ini orang telah mengenal pacul, beliung atau perimbas, blincung, dan pahat. Benda-benda dari zaman neolitik jenisnya ada 3 macam, yaitu : Kapak lonjong, kapak persegi, dan kapak bahu. Kehidupan manusia pada zaman Neolitik telah menetap, mempunyai permukiman dan karenanya telah bermasyarakat dalam tata susunan yang teratur.

  1. Zaman Logam

Zaman batu baru yang makan wakyu beribu tahun, kemudian beralih kezaman baru yang mengenal penggunaan benda logam. Peralihan itu terjadi karena bertambahnya pengetahuan dan kepandaian manusia.

Zaman logam di negara kita dimulai dengan zaman perunggu. Dalam zaman perunggu manusia jawa barat telah mempunyai kepandaian menuang biji logam itu menjadi benda-benda dan perkakas yang diinginkan. Benda-benda diproduksi dalam bentuk kapak corong dan candrasa. Teknik menuang perunggu itu ada 2 macam yaitu bevalve dan tuangan acire perdue.

Perkembangan seni budaya manusia jawa barat pada masa Prasejarah digambarkan dalam beberapa hal sebagai berikut :

  1. Dinding batu sebuah tebing terdapat lukisan berupa goresan –goresan menyerupai jari-jari kaki binatang.
  2. Seni gosok benda perhiasan dan perkakas telah mulai dikerjakan orang juga, kendati adanya daya seni tersebut masih terselubungi oleh keadaan rahasia, gaib dan magis.
  3. Seni tuang perunggu, dimana logam perunggu diubah menjadi suatu benda perhiasan yang diinginkan.
  4. Seni hias, Seni hias gores sebenarnya telah berkembang semenjak manusia Jawa Barat berkenalan dengan benda-benda gerabah.
  5. Masyarakat pada zaman Prasejarah telah mengenal tari – tarian.
  6. Seni bangun.

Manusia di Jawa Barat pada zaman Prasejarah telah hidup menetap dan telah bercocok tanah. Kehidupan bercocok tanam mendekatkan manusia kepada adanya kepercayaan. Karena mereka berharap mendapatkan hasil yang baik. Harapan-harapan itu ditujukan kepada arwah-arwah ghaib.

Perkembangan zaman logam di Indonesia, khususnya di Jawa Barat telah membawa perjalanan sejarah manusia Jawa Barat menuju Gerbang kehidupan yang lebih maju. peninggalan-peninggalan yang bersifat sakral yang meliputi bangunan candi, seni pembuatan patung atau arca baik yang bersifat ciwa, wisnu maupun budha dan lain sebagainya. Peninggalan- peninggalan tersebut tersebar di beberapa tempat di seluruh Jawa Barat, walaupun penyebarannya tidak merata. Peninggalan semacam itu menunjukkan bahwa bermacam-macam aliran dari suatu sistem kepercayaan, dalam hal ini kepercayaan agama hindu yang telah berkembang di Jawa Barat.

Pada abad ke 16 di Jawa Barat tumbuh kota-kota pusat kekuasaan islam cirebon, jayakarta dan cirebon. Kota-kota tersebut berperan sebagai bandar-bandar terpenting yang membentuk jalinan perhubungan pelayaran, perekonomian, dan politik dengan demak sebagai pusat kekuasaan islam terbesar di Jawa. Pada zaman pengaruh islam, raja  dianggap sebagai tokoh yang menguasai masyarakat hidup dan dapat menghubungkannya dengan masyarakat ghaib. Ditinjau dari segi politik dan ekonomi kedudukan raja menempati tempat tertinggi dalam status sosial. Penggolongan masyarakat kota pada zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan islam di Jawa Barat dibagi atas: golongan raja-raja beserta keluarga; b. Golongan elite; c. Golongan non elite dan d. Golongan budak. Agama islam disebarkan melalui pendidikan dan pengajaran, yang disesuaikan dengan keadaan dan adat istiadat yang berlaku di Jawa Barat ( disesuaikan dengan kebudayaan Hindhu yang sebelumnya sudah berpengaruh) dan agama islam mudah diterima oleh rakyat Jawa Barat. Pengajaran agama islam yang berlaku di tanah Jawa khususnya di Jawa Barat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pengajaran yang diberikan di langgar-langgar dan dipesantren-pesantren. Mengenai kesenian, di Jawa Barat mempunyai sifat dan memberi corak sendiri yang khas pada bidang seni bangunan, seni ukir, maupun cabang-cabang kesenian lainnya. Hasil-hasil seni bangunan berupa masji-masji kuno, keraton dan makam-makam sultan. Selain seni bangunan, hasil seni dalam bidang kasustraan seperti babad, pantun, cerita rakyat, primbon dan lain-lain. Mengenai sistem pendidikan, dapat dikatakan bahwa pada mula-mulanya pemerintah penjajahan hanya mementingkan hal-hal yang berhubungan dengan keuntungan dan tidak memperhatikan kemajuan bangsa indonesia. Secara umum pusat pendidika hanya disekitar langgar dan pesantren.

Baru pada permulaan abad ke 19, pemerintah belanda mulai memikirkan tentang pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Gerakan agama mulai variasi yang luas dalam bentuk dan arah pertentangan dengan pranata-pranata sosial yang telah lama terbentuk.

Pada abad 20  Perkembangan Jawa barat khususnya bandung banyak menarik orang-orang berasal dari luar Jawa barat karena orang-orang dapat memanfaatkan segala sarana dan fasilitas untuk mencapai taraf kehidupan yang baik.  Sekolah-sekolah mulai didirikan sehingga masyarakat Jawa Barat khususnya mulai berkenalan dengan huruf Latin. Huruf latin lambat laun mulai diterima umum, sehinggga mendesak penggunaan aksara sunda dan huruf Arab. Masa pendudukan jepang yang berlaku selama kurang lebih tiga setengah tahun itu tidak besar pengaruhnya terhadap kesenian Indonesia umumnya dan Jawa Barat khususnya. Tetapi kesenian teater saja yang berkembang pada masa penjajahan jepang. Seni budaya Jawa Barat yang hidup atau berkembang pada masa kemerdekaan kebanyakan merupakan kelanjutan dari seni budaya sebelumnya. Kemajuan teknologi juga memberi kesempatan kepada masyarakat Jawa barat untuk melakukan komunikasi lebih intensif, baik dengan kesatuan-kesatuan masyarakat Jawa baratsendiri  maupun masyarakat yang ada diluar.

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH PENCIPTAAN MANUSIA JAWA

 

(Alkisah pada zaman itu) belum ada manusia, bahkan Gunung Mahameru belum ada di pulau Jawa. Adapun keberadaan Gunung Mandalagiri, yakni gunung yang besar dan tinggi itu, yang dijadikan contoh tersebut, (masih) berada di bumi Jambudipa (India). Oleh karena itu, pulau Jawa bergoyang-goyang, selalu bergerak-gerak, berguncang-guncang, sebab belum ada gunung Mandara, bahkan manusia. Oleh karena itu, Bhatara Jagatpramana berdiri, dia mencipta pulau Jawa bersama Bhatari Parameswari, sehingga terdapatlah Gunung Dihyang (Dieng), tempat Bhatara mencipta. Demikianlah ceritanya. Lama sekali Bhatara mengadakan ciptaan, dia memerintahkan Brahma Wisnu membuat manusia. Nah, tanpa membantah Brahma Wisnu membuat manusia. Tanah dikepal-kepalnya dan dibuat manusia yang sangat elok rupanya seperti rupa dewata. Manusia laki-laki dibuat oleh Brahma, manusia perempuan dibuat oleh Wisnu.

Manusia-manusia buatan Brahma Wisnu itu dipertemukan, mereka saling rukun bersama, saling kasih mengasihi. Lalu mereka beranak, bercucu, berlipat-lipat banyaknya, berkembang-biak, menjadi banyaklah jumlah manusia. Namun (mereka hidup) tanpa rumah, laki-perempuan telanjang di hutan, menaungi/melindungi anak-cucu, sebab belum ada pekerjaan yang dibuatnya, belum ada yang (dapat) ditirunya, tanpa celana, tanpa busana, tanpa selendang, tanpa kain panjang (basahan), tanpa ikat pinggang (kendit), tanpa kuncung, tanpa ikat kepala. Berucap tetapi tak tahu apa yang dikatakannya, tidak tahu artinya, daun-daunan dan buah-buahan dimakannya. Demikianlah asal-muasal manusia pada zaman purba.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kokoh S, dkk.1984. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta : DEPDIKBUD.

Nursyid Sumaatmadja.2002. Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi. Bandung : Alfabeta.

Suwarno,dkk. 2008. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Surakarta : BP-FKIP UMS

Tantu Pagelaran Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas.http://id.wikisource.org/w/index.php?title=Tantu_Panggelaran&oldid=25571/ diakses 22 Oktober 2011.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

time

Kalender

Januari 2012
M S S R K J S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categoris

counter

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: