saritetep4

proposal skripsi

Posted on: Januari 14, 2012

POLA BELAJAR SISWA SEKOLAH ALAM  DALAM

MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA

Studi Etnografi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Di Kabupaten Sragen

 

 

  1. A.      PENDAHULUAN
    1. 1.    Latar Belakang

Matematika menjadi satu hal yang tak terhindar dari diri kita. Baik dalam pembelajaran formal, non formal, maupun dalam praktis sehari – hari. Matematika menjadi bagian dari ilmu – ilmu lain, seperti fisika, biologi, kimia, astronomi, ekomoni, teknik, serta farmasi. Tidak aneh jika sekarang kita banyak menemukan kalkulator dan komputer dalam kinerja sehari – hari. Begitu pentingnya matematika sehingga pembelajaran matematika mengalami perkembangan dan disesuaikan denagn kebutuhan zaman.

Dalam KTSP, matematika masuk pada kelompok mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Untuk Sekolah Dasar, kelompok mata pelajaran ini dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan perilaku ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri.

Heruman (2007) menyebutkan dalam matematika, setiap konsep yang abstrak, yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan, agar mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa, sehingga akan melekat dalam pola pikir dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hafalan atau mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa. Pepatah Cina mengatakan, “ Saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya mengerti”

Kebiasaan siswa dalam menguasai mata pelajaran di sekolah, dipengaruhi oleh faktor tertentu. Faktor tersebut dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Sedangkan salah satu faktor internal yang turut berperan dalam keberhasilan siswa untuk menguasai mata pelajaran adalah pola belajar. Prestasi belajar siswa akan optimal apabila memahami perbedaan pola belajar yang baik dan pola belajar yang buruk. Siswa yang mempunyai pola belajar yang baik, akan mendapatkan prestasi belajar yang optimal, namun sebaliknya siswa yang mempunyai pola belajar yang buruk maka akan memdapatkan prestasi belajar yang kurang optimal. Kebiasaan belajar yang kurang baik, dapat diukur dari pola belajar yang dilakukan siswa. Pola belajar yang teratur dan berkesinambungan dapat menciptakan kebiasaan belajar yang baik, sedangkan pola belajar yang tidak teratur akan menciptakan kebiasaan belajar yang buruk.

Pendidikan kita belum mengajarkan kedewasaan dalam berpikir. Dari jenjang SD sampai Perguruan Tinggi, para pelajar terbiasa diajarkan menjawab pertanyaan guru/dosen, bukan belajar bertanya atau mempertanyakan berbagai pesoalan, sehingga hanya terbiasa menjawab pertanyaan tanpa memahami esensi dari pertanyaan.

Indonesia sebagai Negara yang berkembang berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, produktif serta sehat jasmani dan rohani. (UU RI no. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS). Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tersebut maka harus ada inovasi baru dalam dunia pendidikan untuk mengusahakan terwujudnya tujuan tersebut.

Sekolah alam merupakan salah satu bentuk pendidikan alternatif yang terinspirasi oleh alam serta menjadikan alam sebagai sumber belajar. Sejumlah sumber di internet menyebutkan bahwa sekolah alam lahir dengan harapan dapat mengembalikan nilai – nilai esensial manusia dalam menyatu dengan alam.

Sebagai sekolah alternatif, Sekolah Alam berbeda dengan kebanyakan sekolah konvensional. Dari bangunan sekolah saja, sudah terlihat perbedaannya. Anda akan melihat anak-anak tidak belajar di ruang kelas yang dikelilingi tembok beton tetapi di dalam saung bertingkat dua. Alamlah yang mengelilingi mereka, bukan tembok beton. Anda juga akan menjumpai anak-anak yang sedang riang melakukan kegiatan outbound, berkebun, dan bermacam aktivitas outdoor lainnya.

Pada dasarnya, sekolah alam juga mendasarkan kurikulumnya pada kuikulum umum yang ada di sekolah formal maupun sekolah swasta lainnya. Secara global, kurikulum tersebut mencakup penciptaan akhlak yang baik, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penciptaan pemahaman kepemimpinan yang memadai.

Di satu sisi, pola belajar dipengaruhi oleh kemampuan berpikir siswa, kreatif atau tidak. Sedangkan sekolah alam merupakan alternatif pendidikan dengan anak – anak kreatif. Maka, penelitian ini difokuskan untuk menjawab pertanyaan bagaimana pola belajar siswa sekolah alam dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. 2.    Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada “Bagaimana Pola Belajar Siswa SDIT Alam Nurul Fikri dalam Menyelesaikan Masalah Matematika?”. Fokus penelitian diuraikan menjadi empat sub fokus.

  1. Bagaimana pola belajar siswa SDIT  dalam memahami masalah matematika?
  2. Bagaimana pola belajar siswa SDIT dalam merencanakan pemecahan masalah matematika?
  3. Bagaimana pola belajar siswa SDIT dalam melaksanakan pemecahan masalah matematika?
  4. Bagaimana pola belajar siswa SDIT dalam menelaah kembali jawaban pemecahan masalah matematika
  5. 3.    Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola belajar matematika siswa SDIT dalam menyelesaikan masalah matematika.

b. Tujuan Khusus

  1. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam memahami masalah matematika
  2. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam merencanakan penyelesaian masalah matematika
  3. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam  melaksanakan penyelesaian masalah matematika
  4. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam mengecek ulang penyelesaian masalah matematika
  5. 4.    Manfaat penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Secara umum studi ini memberikan sumbangan teori tentang pola  belajar matematika. Telah diakui bahwa kebiasaan belajar yang tepat akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan hasil belajar.

Secara khusus, studi ini memberi urunan teori tentang pola belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. Manfaat Praktis

Pada tataran praktis, studi ini memberikan sumbangan kepada lembaga pendidikan baik formal maupun informal. Lembaga pendidikan dapat memanfaatkan studi ini untuk mengembangkan pola belajar matematika yang efektif, efisien, dan tepat sasaran. Pengembangan metode belajar ini digunakan untuk mengaplikasikan pengembangan pembelajaran matematika lebih lanjut.

  1. 5.    Definisi Istilah
    1. Sekolah Alam

Sekolah alam adalah sekolah yang menjadikan alam sebagai sumber belajar yang pada pelaksanaannya kegiatan belajar mengajar dilakukan di luar ruangan.

  1. Pola belajar

Pola belajar adalah cara belajar atau tahapan berpikir anak dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. Pemecahan Masalah Matematika

Sedangkan pemecahan masalah matematika adalah mengerjakan tugas-tugas  matematika yang cara menyelesaikannya belum diketahui sebelumnya, dan pemecahannya tidak dapat dilakukan dengan algoritma tertentu. Untuk menemukan pemecahannya siswa harus menggunakan pengetahuannya, dan melalui proses ini mereka akan mengembangkan pemahaman matematika baru.

  1. Proses Pemecahan Masalah matematika

Dalam memecahkan masalah ada beberapa tahap yang dilalui. Polya  menyarankan tahap-tahap tersebut sebagai berikut; (1) Memahami soal atau masalah; (2) Membuat suatu rencana atau cara untuk menyelesaikannya; (3) Melaksanakan rencana; (4) Menelaah kembali terhadap semua langkah yang telah dilakukan (Ruseffendi, 2006). Langkah terakhir ini sering disebut dengan pengecekan kembali.

  1. B.       LANDASAN TEORI
    1. 1.    Kajian Teori
      1. a.    Pengelolaan Sekolah Alam

Sekolah berbasis alam mengindikasikan satu hal: kegiatan belajar dilakukan dengan memaksimalkan eksplorasi terhadap alam lingkungan sekitar. Itulah mengapa sebagian besar aktivitas dilakukan di luar ruang. Siswa sesekali diajak langsung belajar di hutan, gunung, dan laut. Siswa tidak hanya dibekali teori, pelajaran dari buku atau belajar di dalam ruang kelas, tetapi mereka diajak langsung mengambil alam sebagai media belajar. Ketika belajar tentang biota laut, misalnya, siswa tidak hanya diajak melihat foto teripang yang ada di buku, tapi mereka melakukan outing ke Pulau Pari untuk bisa langsung melihat dan memegang teripang.

Santoso (2010:12), sekolah alternatif berbasis alam tentu mempunyai banyak perbedaan dengan sekolah formal. Namun bukan berarti tanpa kurikulum kompetensi. Sekolah alternatif berbasis alam tetaplah bernilai positif sebagai upaya menumbuhkan kemandirian sejak dini, membuka kesadaran kreatif seluas mungkin, serta memberikan pembelajaran tentang kerja sama.

Sebagai sekolah berbasis komunitas, penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Sekolah Alam Indonesia (SAI) tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru dan yayasan, tapi juga orangtua murid. Semua terlibat, semua turun tangan mengatasi berbagai kendala dan persoalan yang timbul. Semua peduli dengan pengembangan sekolah karena sekolah bukan ‘milik’ yayasan atau pribadi-pribadi tertentu, tapi milik komunitas.

Salah satu keunggulan konsep ini adalah terhindarnya sekolah dari tujuan lain selain dari tujuan pendidikan, misalnya tujuan mengambil keuntungan besar secara ekonomi bagi pemilik atau investornya. Setiap dana yang dimiliki SAI akan dikembalikan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, sehingga biaya yang harus dibayar para orangtua menjadi minimal. Kalaupun ada biaya yang lebih besar, itu karena adanya konsep meringankan biaya bagi anggota komunitas yang sedang mengalami kesulitan yang dipikul bersama oleh anggota komunitas lainnya yang dalam kelapangan rezeki.

Kelebihan – kelebihan sekolah alam :

  1. Sekolah alam cenderung membebaskan keinginan kreatif anak sehingga anak akan mampu menemukan sendiri bakat dan kemampuan berlebih yang dimilikinya.
  2. Konsep pembelajaran dengan cara sambil bermain menjadikan pemahaman mengenai sekolah bukanlah beban, melainkan hal yang menyenangkan.
  3. Metodologi pembelajaran yang diterapkan cenderung mengarah pada Pencapaian logika berpikir, inovasi, yang baik dalam bentuk action learning.
  4. Pengadaan buku – buku yang menunjang metodologi pembelajaran dengan rujukan dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
  5. Tidak hanya murid yang belajar, tetapi guru juga dituntut untuk selalu belajar.
  6. Hasil karya murid yang dipamerkan tiap satu semester ( enam bulan) sekali.
  7. b.   Penyelesaian Masalah Matematika

Dalam pembelajaran matematika, terdapat bebrapa pendekatan. Salah satunnya adalah pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Pendekatan pemecahan masalah menekankan pada pengajaran untuk berpikir tentang cara memecahkan masalah dan pemrosesan informasi matematika. Dalam menghadapi masalah matematika, khususnya soal cerita, siswa harus melakukan analisis dan interpretasi informasi sebagai landasan untuk menentukan pilihan dan keputusan.

Pemecahan masalah adalah pendekatan yang bersifat umum, maksudnya pendekatan yang biasa dipakai dalam pengajaran pada umumnya. Pendekatan umum itu seperti pemecahan masalah biasa diterapkan dalam pengajaran khusus seperti bidang studi, cabang bidang studi, atau topik bidang studi.

Matematika dapat dipecahkan dengan efektif dan efisien dengan kemampuan membaca dan bernalar. Pemecahan masalah dimulai dengan merumuskan, mengumpulkan informasi, mencari gagasan, merumuskan gagasan dalam langkah tindakan, memeriksa setiap langkah, menuliskan solusi, dan menafsirkan hasil yang diperoleh. Pemecahan masalah diharapkan membangun sifat ulet, rasa ingin tahu, dan percaya diri.

Penyelesaian masalah matematika adalah mengerjakan tugas-tugas  matematika yang cara menyelesaikannya belum diketahui sebelumnya, dan penyelesaiannya tidak dapat dilakukan dengan algoritma tertentu. Untuk menemukan penyelesaiannya siswa harus menggunakan pengetahuannya, dan melalui proses ini mereka akan mengembangkan pemahaman matematika baru. Pemecahan masalah matematika seperti halnya pemecahan masalah pada umumnya mempunyai berbagai interpretasi. Menurut Baroody (1993), ada tiga interpretasi pemecahan masalah yaitu: pemecahan masalah sebagai pendekatan (approach),  tujuan (goal), dan proses (process) pembelajaran. Pemecahan masalah sebagai pendekatan maksudnya pembelajaran diawali dengan masalah, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika. Pemecahan masalah sebagai tujuan berkaitan dengan pertanyaan mengapa matematika diajarkan dan apa tujuan pengajaran matematika.

  1. c.    Pola Belajar Siswa

Pola belajar siswa adalah kebiasaan belajar yang teratur dimulai dari cara mengikuti pelajaran, belajar mandiri di rumah, belajar kelompok, dan cara mempelajari buku pelajaran (Nana Sudjana, 2000:173).

  1. Cara mengikuti pelajaran

Cara mengikuti pelajaran di sekolah merupakan bagian penting dari proses belajar sebab dalam proses belajar tersebut, sebagai siswa diberikan arahan tentang apa dan bagaimana latihan pelajaran harus dikuasai. Ada beberapa cara bagaimana mengikuti pelajaran di sekolah:

1)        Baca dan pelajari bahan pelajaran yang telah lalu dan bahan yang akan dipelajari selanjutnya agar selalu siap menghadapi pelajaran, catat bebarapa hal yang belum dipahami untuk ditanyakan kepada guru saat pelajaran berlangsung.

2)        Periksa keperluan belajar sebelum anda berangkat ke sekolah, datanglah lebih cepat agar mendapat tempat paling depan sehingga lebih mudah komunikasi dengan guru.

3)        Konsentrasikan pikiran anda kepada pembahasan guru dan mendengarkan apa yang dijelaskan dengan penuh perhatian.

4)        Catatlah pokok – pokok bahasan guru pada kertas setelah anda menangkap maknanya.

5)        Ajukan pertanyaan pada guru apabila ada bagian yang belum jelas dan catat hal – hal penting dari jawabannya.

6)        Jika guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah, sebaiknya anda menghimpun diri dengan teman untuk membicarakan pokok – pokok tersebut.

  1. Cara belajar mandiri di rumah

Belajar mandiri di rumah adalah tugas paling pokok dari setiap siswa. Syarat utama belajar di rumah adanya keteraturan belajar.

Beberapa cara belajar mandiri di rumah :

1)        Buka dan pelajari kembali catatan hasil belajar di sekolah.

2)        Pada akhir catatan, rumuskan pertanyaan – pertanyaan dari bahan tersebut.

3)        Setiap pertanyaan yang anda buat, tulis pula pokok – pokok jawaban di balik halaman tersebut.

4)        Cara belajar berikutnya, anda tinggal melatih pertanyaan tersebut sampai anda menguasai. Bila belum menguasai pertanyaan tersebut, baca kembali catatan anda sehingga jawabannya betul – betul anda kuasai.

5)        Apabila masih ragu akan jawabannya, sebaiknya ajukan pertanyaan tersebut kepada guru saat pelajaran.

6)        Belajarlah pada saat tertentu yang paling memungkinkan bagi anda.

7)        Janganlah sekali – sekali anda memforsir belajar terus – menerus dalam waktu cukup lama.

  1. Cara belajar kelompok

1)        Pilih teman anda yang paling cocok bergabung dalam satu kelompok yang terdiri dari 3 – 5 orang.

2)        Tentukan dan sepakati bersama kapan, dimana, dan apa yang akan dibahas serta apa yang perlu dipersiapkan untuk keperluan diskusi tersebut. Lakukan secara rutin minimal satu kali dalam seminggu.

3)        Rumuskan pertanyaan atau pemasalahan yang akan dipecahkan bersama dan batasi ruang lingkupnya agar pembahasan tidak menyimpang.

4)        Bahas dan pecahkan setiap persoalan satu persatu sampai tuntas, dengan cara memberi kesempatan tiap anggota mengajukan pendapat.

5)        Kesimpulan hasil diskusi dicatat kepada anggota kelompok untuk dipelajari lebih lanjut di rumah masing – masing.

  1. Mempelajari buku teks

Buku adalah sumber ilmu, oleh karena itu membaca adalah keharusan bagi siswa. Kebiasaan membaca buku harus dibudidayakan dalam kehidupan anda terutama buku – buku ilmiah. Dengan membaca buku, anda akan lebih kaya dalam memahami bahan pelajaran yang diberikan guru.

Siswa yang mempunyai pola belajar baik, dalam belajarnya menggunakan cara – cara atau teknik atau metode belajar yang baik dan memperhatikan prinsip – prinsip belajar.

Beberapa ciri – ciri belajar siswa yang mempunyai pola belajar yang baik :

1)        Segera mempelajari kembali bahan yang telah diterima.

2)        Membaca dengan teliti dan betul.

3)        Sering menyelesaikan soal latihan.

4)        Belajar dengan teratur dan disiplin.

5)        Memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

6)        Menggunakan berbagai sumber media.

  1. d.   Teori Belajar Polya

Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai satu usaha mencari jalan keluar dari satu kesulitan guna mencapai satu tujuan yang tidak begitu mudah segera untuk dicapai, sedangkan menurut Utari (1994) dalam (Hamsah 2003) mengatakan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempunyai arti khusus, istilah tersebut mempunyai interpretasi yang berbeda, misalnya menyelesaikan soal cerita yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Polya (1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali semua langkah yang telah dikerjakan. Keempat tahapan ini lebih dikenal dengan See (memahami problem), Plan (menyusun rencana), Do (melaksanakan rencana) dan Check (menguji jawaban).

Gambaran umum dari kerangka kerja Polya:

  1. Pemahaman pada masalah (Identifikasi dari tujuan)

Pertama : membaca soalnya dan meyakinkan diri bahwa anda memahaminya secara benar. Tanyalah diri anda dengan pertanyaan :

  1. Apa yang tidak diketahui?
  2. Kuantitas apa yang diberikan pada soal?
  3. Kondisinya bagaimana?
  4. Apakah ada perkecualian?
  5. Membuat Rencana Pemecahan Masalah

Kedua : Carilah hubungan antara informasi yang diberikan dengan yang tidak diketahui yang memungkinkan anda untuk memghitung variabel yang tidak diketahui. Akan sangat berguna untuk membuat pertanyaan: “Bagaimana saya akan menghubungkan hal yang diketahui untuk mencari hal yang tidak diketahui? “. Jika anda tak melihat hubungan secara langsung, gagasan berikut ini mungkin akan menolong dalam membagi masalah ke sub masalah.

  1. Membuat sub masalah.

Pada masalah yang komplek, akan sangat berguna untuk membantu jika anda membaginya kedalam beberapa sub masalah, sehingga anda dapat membangunya untuk menyelesaikan masalah.

  1. Cobalah untuk mengenali sesuatu yang sudah dikenali.

Hubungkan masalah tersebut dengan hal yang sebelumnya sudah dikenali. Lihatlah pada hal yang tidak diketahui dan cobalah untuk mengingat masalah yang mirip atau memiliki prinsip yang sama.

  1. Cobalah untuk mengenali polanya.

Beberapa masalah dapat dipecahkan dengan cara mengenali polanya. Pola tersebut dapat berupa pola geometri atau pola aljabar. Jika anda melihat keteraturan atau pengulangan dalam soal, anda dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi dari pola tersebut dan membuktikannya.

  1. Gunakan analogi.

Cobalah untuk memikirkan analogi dari masalah tersebut, yaitu, masalah yang mirip, masalah yang berhubungan, yang lebih sederhana sehingga memberikan anda petunjuk yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang lebih sulit.

  1. Masukan sesuatu yang baru.

Mungkin suatu saat perlu untuk memasukan sesuatu yang baru, peralatan tambahan, untuk membuat hubunganantara data dengan hal yang tidak diketahui.Contoh, diagram sangat bermanfaat dalam membuat suatu garis bantu.

  1. Buatlah kasus

Kadang-kadang kita harus memecah sebuah masalah kedalam beberapa kasus dan pecahkan setiap kasus terbut.

  1. Mulailah dari akhir (Asumsikan Jawabannya)

Sangat berguna jika kita membuat pemisalan solusi masalah, tahap demi tahap mulai dari jawaban masalah sampai ke data yang diberikan

  1. Melaksanakan Rencana

Ketiga : Menyelesaikan rencana anda.

Dalam melaksanakan rencana yang tertuang pada langkah kedua, kita harus memeriksa tiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail untuk memastikan bahwa tiap langkah sudah benar. Sebuah persamaan tidaklah cukup!

  1. Lihatlah kembali

Keempat : Ujilah solusi yang telah didapatkan.

Kritisi hasilnya. lihatlah kelemahan dari solusi yang didapatkan (seperti: ketidakkonsistenan atau ambiguitas atau langkah yang tidak benar ). Pada saat guru menggunakan strategi ini, sebaiknya ditekankan bahwa penggunaan objek yang dicontohkan dapat diganti dengan satu model yang lebih sederhana, misalnya :

  1. Membuat gambar atau diagram.
  2. Menemukan pola
  3. Membuat tabel
  4. 4.    Memperhatikan semua kemungkinan secara sistematik
  5. Tebak dan periksa ( Guess and Check )
  6. 2.    Kajian Pustaka

Penelitian Maria (2010) menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat dalam proses pendidikan pemuda dan orang dewasa pada pembelajaran matematika merupakan suatu proses untuk mengkontekstualkan suatu permasalahan matematika dalam kehidupan sehari – hari. Untuk mengetahui karakteristik siswa, para pendidik dapat mengamati dari budaya matematika yang ditunjukkan oleh para peserta didik sewaktu pembelajaran matematika berlangsung. Ini akan mempengaruhi cara menentukan metode belajar, pemecahan masalah, pertimbangan, serta pengambilan keputusan yang tepat.

Dengan budaya matematika seperti yang dipraktekkan dengan pendidikan yang membebaskan, akan mampu menghasilkan suatu perspektif baru tentang matematika dalam pendidikan pemuda dan orang dewasa bahwa matematika bukanlah satu hal yang sulit, tetapi matematika adalah satu hal yang sering mereka temukan dan mereka gunakan dalam kehidupan sehari – hari, serta matematika dapat dipahami dan dipelajari dengan berbagai cara.

Dari hasil penelitian di atas, jika dihubungkan dengan pola belajar maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan cara belajar yang khusus bagi tiap individu untuk memahami dan menghargai matematika, terutama pada pemecahan masalah matematika dalam kehidupan sehari – hari.

Penelitian Hermawati (2010) dalam skripsinya memberikan kesimpulan bahwa (1) Kesiapan siswa dalam pembelajaran merupakan tolok ukur kemaksimalan pembelajaran siswa. (2) Terjadi hubungan timbal balik antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa. Kegiatan yang dilakukan, penataan tempat yang sesuai dengan keinginan siswa membuat siswa merasa senang dan tidak jenuh dalam pembelajaran (3) dengan adanya kompetisi atau persaingan yang sehat antara satu siswa dengan siswa yang lain serta hubungan baik dengan sesama dapat membangun suatu motivasi siswa untuk menunjukkan hasil prestasi yang maksimal.

Penelitian Mairina (2004) menyajikan kesimpulan bahwa (1) Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika dalam memecahkan masalah matematika antara siswa yang menggunakan tahapan polya dan siswa yang tidak menggunakan tahapan Polya yang ditunjukkan oleh hasil thit = 2,689 > ttabel = 1,645 dengan taraf signifikansi 5% dan rata – rata prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan tahapan polya lebih baik daripada rata – rata prestasi belajar matematika siswa yang tidak menggunakan tahapan Polya, yaitu 69,13 > 56,5, (2) pendekatan masalah dengan mengguanakan tahapan Polya dapat memberikan rangsangan kepada siswa untuk belajar terutama untuk menarik minat siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan, siswa juga terlatih untuk menyelesaikan masalah matematika secara lebih sistematis, sehingga pendekatan pemecahan masalah dengan tahapan Polya lebih baik unuk digunakan bagi siswa berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan belajar.

Penellitian Suryati (2004) menghasilkan salah satu kesimpulan yaitu ada hubungan positif antara pola belajar siswa dengan prestasi belajar matematika ditunjukkan oleh r = 0,372, t = 3,812, p = 0,173. Hal ini berarti bahwa pola belajar siswa mempunyai efek nyata terhadap capaian prestasi siswa. Siswa yang pola belajarnya tidak / kurang teratur kemungkinan besar prestasi yang diperolehnya rendah. Berbeda halnya dengan siswa yang rajin, prestasinya tinggi dan nilainya tinggi juga.

Penelitian Prasetyawati (2010) menyatakan semakin menarik penyajian matematika, maka semakin lama pula anak menikmati dan menginginkan kelas itu. Proses belajar yang penuh dengan suasana santai, yang tidak ada proses pemberian nilai dalam bentuk pemberian sebuah angka, namun pemberian penilaian yaitu dengan memberikan pujian, motivasi yang belum maksimal, dan selalu menerapkan pemahaman bahwa belajar adalah agar bisa, dengan tetap mengembangkan sifat jujur dan bekerja sama.

Penelitian Maria (2010) memfokuskan pada bagaimana budaya matematika mempengaruhi pengambilan keputusan tentang pemilihan metode belajar yang tepat untuk diterapkan pada pendidikan orang dewasa di Brasil. Penelitian Hermawati (2010) memfokuskan pada pengaruh kesiapan belajar siswa dengan kemaksimalan pembelajaran. Penelitian Mairina (2004) memfokuskan pada pengaruh penggunaan tahapan belajar Polya dalam pemecahan masalah matematika pada prestasi belajar matematika. Penelitian Suryati (2004) memfokuskan pada hubungan antara pola belajar dengan prestasi belajar matematika. Penelitian Prasetyawati memfokuskan pada budaya belajar matematika siswa sekolah gratis rumah pengetahuan amartya Yogyakarta. Sedangkan penulis pada penelitian ini akan fokus pada pola belajar siswa sekolah alam, sekolah dasar islam terpadu Nurul Islam Yogyakarta.

  1. C.      METODE PENELITIAN

Sugiyono (2008 : 133) menyatakan tujuan penelitian akan tercapai dengan baik kalau digunakan manajemen penelitian yang profesional. Manajemen yang professional adalah manajemen yang cerdas, yaitu manajemen yang mampu melaksanakan fungsi – fungsi manajemen secara konsisten dan berkesinambungan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen yang cerdas adalah manajemen yang bekerjanya berdasarkan keilmuan.

  1. 1.    Jenis Penelitian

Penelitian ini penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi etnografi. Penelitian deskriptif berarti penelitian ini berusaha menjelaskan atau mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian, yang terjadi pada saat sekarang. Dengan kata lain, penelitian ini memusatkan perhatian kepada masalah – masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan.

Penelitian ini dilakukan karena semakin meluasnya sekolah alam di Indonesia dengan strategi pembelajaran yang berbeda dari sekolah – sekolah lain di tengah upaya pemerintah dalam memperbaiki kurikulum pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Apakah siswa sekolah alam mampu mencerminkan pola belajar yang efektif untuk menyelesaikan masalah matematika sehingga mampu memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan untuk efektifitas pembelajaran matematika.

Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah pola belajar, yaitu bagaimana tahapan – tahapan atau kebiasaan – kebiasaan belajar siswa sekolah alam yang meliputi memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan perencanaan , dan menelaah kembali jawaban dalam dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. 2.    Lokasi dan Penelitian

Penelitian ini dimulai di bulan akan dilaksanakan di Sekolah Alam SDIT Nurul Islam tepatnya di Jalan Ringroad Barat Pundung Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta.

Penelitian ini dimulai bulan Oktober 2011 sampai bulan Desember 2011.

  1. 3.    Data, Sumber Data, dan Nara Sumber

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data mengenai pola belajar siswa sekolah alam dalam menyelesaikan masalah matematika. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara terhadap siswa putra dan putri dan hasil observasi terhadap siswa putra dan putri sekolah alam ketika pembelajaran matematika berlangsung serta pola belajarnya di luar dalam menyelesaikan masalah matematika di luar jam pelajaran. Data sekunder dalam penelitian ini berupa dokumen hasil penyelesaian soal cerita oleh siswa.

Sumber data dalam penelitian ini hanya yaitu sumber data manusia. Sumber data manusia adalah siswa – siswi Sekolah alam SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta.

Nara sumber dalam penelitian ini adalah guru matematika sebagai fasilitator pembelajaran matematika SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta.

  1. 4.    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian (Sugiyono, 2008 : 206). Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Wawancara yang digunakan adalah wawancara kualitatif. Artinya peneliti mengajukan pertanyaan – pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa, tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tentu saja, peneliti menyimpan cadangan masalah yang perlu ditannyakan kepada informan. Cadangan masalah tersebut adalah kapan menanyakannya, bagaimana urutannya, akan seperti apa rumusan pertanyaannya, dan sebagainya yang biasanya muncul secara spontan sesuai dengan perkembangan situasi wawancara itu sendiri (Patilima, 2007 : 65).

Observasi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang kebiasaan – kebiasaan yang dilakukan oleh siswa sekolah alam dalam pola belajarnya serta pengaruhnya pada penyelesaian masalah matematika. Marshall (1995) dalam Sugiyono (2008 : 226) menyatakan bahwa mlalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data melalui peninggalan tertulis pada arsip, buku – buku tentang pendapat, teori, dalil yang  berhubungan dengan masalah peneliti ( Margono, 2004 : 18). Data ini berupa hasil pekerjaan siswa kemudian dianalisis pola belajarnya dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. 5.    Kehadiran Peneliti

Peneliti secara langsung terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pengumpulan data, baik pada saat wawancara maupun observasi. Dalam hal ini peneliti sebagai instrument, selain itu peneliti bertindak sebagai siswa.

  1. 6.    Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman. Anallisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memmuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampapi tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel (Sugiyono, 2008 : 246)

Aktifitas dan analisis data yaitu Pengumpulan Data, Penyajian Data, Reduksi Data, dan Kesimpulan – kesimpulan penarikan atau verifikasi. Langkah – langkah analisis data ditunjukkan gambar berikut.

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Penyajian Data

Kesimpulan – kesimpulan  penarikan  / verifikasi

 

  1. 7.    Keabsahan Data

Data dalam penelitian ini disahkan melalui teknik Triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2006 : 256). Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik dan sumber data.

  1. D.      DAFTAR PUSTAKA

Agusnadi. 2010. ”Teori Belajar Polya”. http://mediateropongsiswa.blogspot.com. Diakses tanggal 5 Mei 2011

Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Hermawati. 2010. Perilaku Siswa Dalam Pembelajaran Matematika di Pondok Pesantren. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung:  PT Remaja Rosdakarya

Mairina, Upik. 2004. Penerapan Tahapan Belajar Polya dalam pemecahan Masalah Matematika pada Siswa Kelas II SMA Muhammadiyah Surakarta. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Maria da conceicao. (2010). Adult Education and Ethnomathematics : appropriating results, methods, and principles. ZDM Mathematics Education. Vol 42 hal 361-369.

Moleong, Lexy. 2006. Metode penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Prasetyawati, Pipin. 2010. Budaya Belajar Matematika Siswa Sekolah Gratis Rumah Pengetahuan Amartya Yogyakarta. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Santoso, Satmoko Budi. 2010. Sekolah Alternatif, Mengapa Tidak…?!. Yogyakarta : DIVA Press

Sugiarti. 2004. Interaksi Sosial, Rasa Tanggung Jawab, dan Pola Belajar Siswa Hubungannya dengan Hasil Belajar Matematika di SLTPN 2 Sukoharjo  Tahun Ajaran 2003 / 2004. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Sugiyono. 2008. Metode penelitan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

time

Kalender

Januari 2012
M S S R K J S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categoris

counter

%d blogger menyukai ini: