saritetep4

Siapa bilang matematika tidak bisa diaplikasikan langsung dalam kehidupan kita? Dr. Roman Polyak seorang matematikawan membuktikan bahwa teori matematikanya bisa “diterjemahkan” sehingga membantu pengobatan kanker.

Polyak sendiri terkesima dengan kemajuan sains tersebut. “Saya tak pernah bermimpi. 25 tahun silam sangat jarang matematika abstrak bisa digunakan mengobati kanker,” ujarnya.

Polyal menekuni bidang optimisasi matematika, yakni bidang yang membuat sesuatu efektif sebisa mungkin. Bidang ini sudah ditekuni para ilmuwan sejak zaman Yunani kuno.

Polyak mempelajarinya sejak 25 tahun lalu dengan mengembangkan teori Ronlinear Rescaling (NR) untuk menyelesaikan problem optimisasi. Metode ini cukup esensial untuk menyelesaikan problem teknologi di dunia nyata yang rumit dengan ribuan variabel.

Rembert Reemtsen dan Markus Alber belum lama ini menggunakan NR untuk meningkatkan efisiensi pengobatan tumor kanker dengan radiasi. Pengobatan itu menggunakan optimisasi untuk menetapkan sudut, intensitas dan durasi sinar radiasi yang paling efektif untuk menghancurkan tumor-tumor tanpa merusak jaringan sehat di dekatnya.

Perjuangan

Peranti lunak yang menggunakan dasar NR telah dikembangkan ke dalam sistem radioterapi dan dipakai di banyak rumah sakit. Metode ini memungkinkan akurasi hingga 10 digit, bukan hanya berguna bagi pengobatan kanker tapi juga obat-obatan lain. Dalam optimisasi struktural, metode ini menyelesaikan sebagian besar problem desain dengan 5000 variabel dan 200.000 desakan. Pemrosesan citra, diagnosa medis, dan penemuan distribusi optimal pada energi melalui jaringan listrik hanya sedikit manfaat aplikasinya.

Namun kesuksesan ini tidak datang dengan mudah bagi Polyak. Tahun 1980 ia dipecat dari pekerjaannya di Kiev, Ukraina, karena keinginannya berimigrasi keluar dari Uni Soviet. Ia juga dilarang melakukan riset di wilayah Uni Soviet, bahkan juga tidak bisa mempublikasikan papernya ke luar.

Selama masa itu Polyak merasa hanya teman-teman dekat dan keluarganya saja yang bisa memahaminya. Sebelum kehilangan jabatannya ia sempat mempublikasikan sejumlah paper dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Berkat bantuan teman-temannya Polyak mempublikasikan paper Modified Barrier Function (MBF) ke luar Soviet.

Paten

Saat ia beremigrasi ke AS, Polyak dibantu temannya bergabung dengan IBM T. J. Watson Research Center. Di sinilah pada awal 1990-an paper MBF-nya dipraktikan dan dipublikasikan kembali tahun 1992 di jurnal Mathematical Programming. Polyak melanjutkan teori-teori

Tahun 2006, ia bersama rekannya Igor Griva, mempublikasikan paper bertajuk Exterior Point Method di jurnal Mathematical Programming. Di sini dibahas tentang solusi yang lebih cepat dan akurat untuk problem berskala besar. Tahun lalu, mereka memperoleh paten aplikasi ini di AS.

Saat ini Polyak tengah menulis sebuah buku mengenai hasil-hasil studi NR selama seperempat abad terakhir. “Saya sangat bahagia bahwa temuan matematika saya telah digunakan untuk sejumlah aplikasi penting, ujar Polyak.

Diterjemahkan secara bebas dari www.livescience.com

Bilangan prima adalah dasar dari matematika, termasuk salah satu misteri alam semesta. Tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya, sampai ditemukan bahwa bilangan prima juga merupakan dasar dari kehidupan alam, yang de­ngan usaha keras ingin dijelaskan oleh ilmu ini dalam sains. Pandangan orang umumnya mengatakan bahwa matematika hanyalah penemuan manusia biasa. Sebaliknya, beberapa pemikir masa lalu – Pythagoras, Plato, Cusanus, Kepler, Leibnitz, Newton, Euler, Gauss, termasuk para revolusioner abad ke-20, Planck, Einstein dan Sommerffeld-yakin bahwa keberadaan angka dan bentuk geometris merupakan konsep alam semesta dan konsep yang bebas (independent). Galileo sendiri berang­gapan bahwa matematika adalah bahasa Tuhan ketika menulis alam semesta

Bilangan Prima dan Rencana Penciptaan

Salah satu teka-teki lama yang belum sepenuhnya terpe­cahkan adalah bilangan prima. Bilangan prima adalah bilangan yang hanya dapat habis dibagi oleh bilangan itu sendiri dan angka 1. Angka 12 bukan merupakan bilangan prima, karena dapat habis dibagi oleh angka lainnya 2, 3, dan 4. Bilangan prima adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, …. dan seterusnya. Banyak bilangan prima tidak terhingga. Tidak peduli berapa banyak kita meng­hitung, pasti kita akan menemukan bilangan prima, walaupun mungkin makin jarang_ Hal ini menjadi teka-teki kita, jika kita ingat bilangan ini tidak dapat dibagi oleh angka lainnya. Salah satu hal yang menakjubkan, dalam era komputer kita memberi­kan kodetifikasi semua hal yang penting dan rahasia, di bank, asuransi, dan perhitungan-perhitungan peluru kendali, security system dengan enkripsi, dalam angka jutaan bilangan-bilangan yang tidak habis dibagi oleh angka lainnya. Ini diperlukan ka­rena dengan penggunaan angka lain, kodetifikasi tadi dapat dengan mudah ditembus. Fenomena inilah yang ditemukan il­muwan dari Duesseldorf (Dr. Plichta), sehubungan dengan pen­ciptaan alam, yaitu distribusi misterius bilangan prima.

Mayoritas ahli astrofisika juga percaya bahwa di alam se­mesta terdapat “kode kosmos” atau yang disebut cosmic code based on this order, yang dikenal juga sebagai Theory of Everything (TOE), yang artinya terdapat konstanta-konstanta alam semesta yang saling berhubungan berdasarkan perintah pendesain. Sekali perintah tersebut dapat dipecahkan, maka hal ini akan membuka pandangan sains lainnya yang berhubungan.

Mayoritas ahli astrofisika juga percaya bahwa di alam se­mesta terdapat “kode kosmos” atau yang disebut cosmic code based on this order, yang dikenal juga sebagai Theory of Everything (TOE), yang artinya terdapat konstanta-konstanta alam semesta yang saling berhubungan berdasarkan perintah pendesain. Sekali perintah tersebut dapat dipecahkan, maka hal ini akan membuka pandangan sains lainnya yang berhubungan

Dalam budaya Cina kuno, angka 8 melambangkan yat kwa, delapan penjuru angin, jalan menuju ke harmoni – keseimbangan kehidupan dengan alam sekelilingnya. Dalam al-Qur’an, angka 8 merupakan jumlah malaikat, force, yang menjunjung ‘Arsy (Kursi, Singgasana), mengatur keseimbangan ‘Arsy, yang bermakna power and authority dominion, baik sebelum maupun saat Kiamat (al-Haqqah 69 : 17) . Sebagian mufasir, seperti Mu­hammad Abdul Halim, menerjemahkan ‘Arsy dengan “Majelis Langit” 4 atau “Wilayah Pemerintahan Kosmos”. Wilayahnya tidak terbatas, “di bawah ‘Arsy terdapat (unsur) air” (Hud 11 : 7) . Berlimpah unsur hidro g en, elemen kimia yang paling ringan dari unsur air, H 2 O. Jauh lebih luas dari alam semesta yang diketahui.

Komunikasi Interstelar

Baik penulis fiksi ilmiah, misalnya Dr. Carl Sagan dalam bukunya Contact, maupun para pemikir sains, seperti Galileo, Euclid, telah lama berpendapat bahwa bilangan prima adalah bilangan universal yang diyakini merupakan bahasa alam semesta, bilangan yang ada hubungannya dengan desain kos­mos, dan dalam operasionalnya banyak dipakai manusia untuk security system – kodetifikasi – enkripsi. Termasuk kemungkin­an untuk komunikasi interstellar, antargalaksi, dan komunikasi dengan ETI, Extra-Terrestrial Intelligent. 5

Pesan berkode dari Frank Drake, penemu kriptogram, dikirimkan kepada para ilmuwan dalam upaya mengatasi kesu­litan menemukan arti sinyal artificial extraterrestrial (datang dari luar angkasa, tidak dikenal). Pesan tersebut terdiri dari 1271 garis (1271 adalah bilangan prima) angka 1 dan nol (atau bit). Kunci kode dikenali karena 1271 adalah hasil kali dua bilangan prima 31 dan 41, sehingga informasi dapat diperlihatkan de­ngan 41 garis dengan 31 bit tiap garis atau 31 garis dengan 41 bit tiap garis. Kemungkinan pertama tidak berarti, tetapi ke­mungkinan kedua mempunyai gambaran yang lebih berarti. Bernard Oliver salah satu penerima sinyal dari Frank Drake, sesama ilmuwan, dapat memecahkan kode tersebut. Di mana kemungkinan ini memberikan prospek komunikasi antara makhluk-m

ALGORITMA DAN FLOWCHART

 

 

  1. PENDAHULUAN

Pada saat ini kita hidup dalam era teknologi informasi yang dipicu dengan perkembangan yang sangat pesat di bidang ilmu komputer. Hadirnya teknologi informasi tentu saja diawali dengan komputerisasi disegala bidang kehidupan. Sehingga dengan sistem komputerisasi, akses informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Hal ini sudah dimanfaatkan disegala bidang misalkan kedokteran, perbankkan,pendidikan.

Peranan komputer di bidang pendidikan telah sangat membantu para siswa dalam memudahkan para siswa dalam memudahkan mempelajari berbagai mata pelajaran, dan memudahkan guru dalam membantu menyampaikan pelajarannya. Di indonesia saat ini internet sudah membudaya dan sudah menjadi kebutuhan bagi lembaga pendidikan apalagi bagi mereka yang bertempat di kota. Dengan demikian jelas mau tidak mau, komputer akan dan harus menjadi bagian dari kehidupan kita. Kita tidak bisa menghindar dari kiomputer. Untuk itulah, sebagai calon guru (matematika) mau tidak mau kita harus mempelajari ilmu komputer, dengan kata lain kita harus tau tentang komputer.

Dengan demikian, dengan menguasai ilmu komputer yang terpenting bagi kita sebagai pendidik adalah mampu menggunakan komputer sabagai alat untuk memecahkan masalah. Apakah masalah-maslah pendidikan dan pengajaran, maupun masalah keilmuan dan aplikasi lainnya. Berikut akamn dibahas sedikit tentang struktur ilmu komputer.

 

 

  1. PEMBAHASAN

Beberapa langkah dalam prosen pembuatan suatu program atau software :

  1. Mendefinisikan masalah dan menganalisanya

Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasikan masalah antara lain tujuan dari pembuatan program, parameter-parameter yang digunakan, fasilitas apa saja yang akan disediakan oleh program. Kemudian menentukan metode atau algoritma apa yang akan diterapkan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan terakhir menentukan bahasa program  yang digunakan untuk pembuatan program.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Merealisasikan dengan langkah-langkah berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara umum, struktur suatu program terdiri dari beberapa bagian yaitu :

 

  1. Input

Bagian ini merupakan proses untuk memasukkan data ke komputer melalui device yang ada misalnya keyboard, mouse, scanner dll. Program melakukan proses membaca data yang akan diolah dari device tersebut.

 

  1. Output

Bagian ini merupakan proses untuk menampilkan data yang telah diolah, melaporkan hasil pegolahan data melalui device seperti monitor, printer dll. Program melakukan proses mencetak data ke device tersebut.

 

  1. Proses Pengolahan Data

Bagian ini merupakan proses mengolah data yang diinputkan dengan nenerapkan metode-metode, teknik-teknik, algoritma-algoritma yang ada. Proses ini menghasilkan data output yang akan dioutputkan kepada pengguna program.

 

  1. Penyimpanan Data

Bagian ini merupakan proses menyimpan data dalam memori atau device penyimpanan data seperti disket, harddisk, CD dll.

 

Berikut ini adalah blok diagram struktur dari suatu program secara umum.

 

 

 

 

 

 

Algoritma

 

Algoritma adalah urutan langkah-langkah logika yang menyatakan suatu tugas dalam menyelesaikan suatu masalah atau problem.

 

Contoh : Buat algoritma untuk menentukan apakah suatu bilangan merupakan bilangan ganjil atau bilangan genap.

 

Algoritmanya :

  1. Bagi bilangan dengan bilangan 2
  2. Hitung sisa hasil bagi pada langkah 1.
  3. Bila sisa hasil bagi sama dengan 0 maka bilangan itu adalah bilangan genap tetapi bila sisa hasil bagi sama dengan 1 maka bilangan itu adalah bilangan ganjil.

 

 

Flowchart

 

Flowchart adalah gambaran dalam bentuk diagram alir dari algoritma-algoritma dalam suatu program, yang menyatakan arah alur program tersebut.

 

Berikut adalah beberapa simbol yang digunakan dalam menggambar suatu flowchart :

 

SIMBOL NAMA FUNGSI
TERMINATOR Permulaan/akhir program
GARIS ALIR

(FLOW LINE)

Arah aliran program
PREPARATION Proses inisialisasi/pemberian harga awal
PROSES Proses perhitungan/proses pengolahan data
INPUT/OUTPUT DATA Proses input/output data, parameter, informasi
PREDEFINED PROCESS

(SUB PROGRAM)

Permulaan sub program/proses menjalankan sub program
DECISION Perbandingan pernyataan, penyeleksian data yang memberikan pilihan untuk langkah selanjutnya
ON PAGE CONNECTOR Penghubung bagian-bagian flowchart yang berada pada satu halaman
OFF PAGE CONNECTOR Penghubung bagian-bagian flowchart yang berada pada halaman berbeda

 

 

Dari contoh algoritma di atas tentang menentukan apakah suatu bilangan adalah bilangan ganjil atau bilangan genap, flowchart dari program adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membangun Program

 

Setelah kita mengetahui dan algoritma dari suatu permasalahan tahap berikutnya adalah manyusun program atau tahap implementasi, dan akhirnya melakukan  uji coba terhadap program yang telah disusun. Menyusun program bukan pekerjaan mudah . di samping memerlukan kreativitas yang tinggi, menulis program juga memerlukan wawasan yang luas sebab suatu program pada dasarnya adalah implementasi dari prosedur untuk menyelesaiakn masalah yang menggunakan berbagai disiplin ilmu.

 

Contoh :

 

Buatlah program untuk menghitung luas persegi panjang jika diketahuai panjang dan lebarnya !

  • Analisis masalah : data input yang diperlukan untuk menghitung luas persegi panjang adalah panjang (p) dan lebar (l). Proses perhitungannya adalah Luas = p*l
  • Algoritma :

(1)   Input : panjang*lebar

(2)   Proses : Luas= p*l

(3)   Output : mencetak luas

  • Implementasi

Dengan memperhatikan algoritma di atas, maka bisa disusun program untuk menghitung luas persegi panjang sebagai berikut :

 

{Program menghitung persegi panjang}

{dibuat Kusmiyati Fibri Ana Sari}

{dengan turbo pascal}

Uses crt;

Program_Luas_Persegi_Panjang;

Var p,l, luas: real;

Begin

Clrscr;

Writeln(‘PROGRAM LUAS PERSEGI PANJANG’);

Write(‘input panjang = ‘); readln(p);

Write(‘input lebar = ‘); readln(l);

Luas := p*l;

Writeln(‘Luas Persegi Panjang = ‘, luas);

Readln;

End.

 

Selamat mencoba program yang lain sesuai degan kreativitas…!!!

 

Sumber :

Murtiyasa, Budi. 2006. PEMOGRAMAN DENGAN TURBO PASCAL, Surakarta : UMS press.

Yogiyanto, HM. 1995, Turbo Pascal Jilid 1 dan 2, yogyakarta : Andi offset.

 

SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

 

  1. Pendahuluan

Sumber daya alam merupakan segala sesuatu yang berasal dari alam yang diman faatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.Mungkin tak ada yang menandingi Indonesia dalam hal kekayaan alam. Negeri ini begitu melimpah dengan kekayaan alam yang dapat dijadikan sumber penghidupan.

Lingkunan hidup adalah satu-satunya isu global yang mungkin bisa menyaingi isu terorisme. Dibalik dari dampaknya, penataan lngkungan hidup yang semrawut bisa memakan korban lebih besar ketibang aksi terorisme. Banjir, longsor, badai dan puting beliung adalah beberapa contoh bencana alam yang disebabkan adanya gangguan pada lingkungan hidup.

Pemanfaatan sumber daya alam harus berwawasan lingkungan. Kita tidak seharusnya memanfaatkan sumber daya alam yang ada semuanya disekitar kita. Biarpun untuk sumber daya alam yang dapat diperbaharui, kita harus menghemat dalam pemakainanya, karena tidak dapat diperbaharui, ataupun kalau bisa dibentuk kembali memerlukan jutaan tahun lamanya.

Berbicara sumber daya alam tentu tak lepas dari peran sebuah teknologi tepat guna untuk sebuah kelestarian lingkungan. Untuk itu, pengusaha harus dapat memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif dari kepada lingkungan. Apalagi jika kita lihat kebijakan penataan ruang daerah dilakukan dengan tujuan untuk mampu menciptakan pemanfaatan ruang wilayah yang berimbang, optimal dan berwawasan lingkungan untuk kepentingan masyarakat luas. Kita tidak dapat menutup mata, bagaimana pemanfaatan teknologi berupa alat berat pada sektor pertambangan, yang secara seporadis membabat habis hutan untuk mencari hasil tambang yang terkadang hasilnya nihil atau 0%. Kepada siapa kita akan bertanggung jawab? Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka.

  1. Pembahasan
    1. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia untuk mensejahterakan hidupnya.

Berdasarkan sifatnya, sumber daya alam dapat dibedakan menjadi sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (http://id.wikipedia.org).

  1. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui

Sumber daya alam ini dapat diusahakan kembali keberadaannya sehingga dapat dimanfaatkan secara terus-menerus.

  1. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui

Sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui ataupun dapat diperbaharui dengan wajtu jutaan tahun lamanya untuk membentuk sumber daya alam tersebut kembali.

 

Berdasarkan jenisnya, sumber daya alam dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Sumber daya alam hayati

Sumber daya alam berupa makhluk hidup

  1. Sumber daya alam non hayati

Sumber daya alam yang bukan berupa makhluk hidup

 

  1. Konsep Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Sangatlah penting melakukan inventarisasi da evaluasi sumber daya alam hayati maupun sumberdaya nonhayati lebih hati-hati dan yang sangat diperlukan bagi pembangunan. Penggunaan  teknologi untuk mengelola sumber daya alam harus dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat, dengan tetap memberikan memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya, sehingga tetap memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat, dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya, sehingga memberi manfaat bagi generasi-generasi berikutnya.

Menurut Suryani, dkk sebenarnya kerusakan sumber daya alam dan jumlahnya yang makin terbatas lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan erat dengan tingkat pertambahan penduduk dan pola penyebaran penduduk yang kurang seimbang dengan jumlah dan penyebaran sumber daya alam, serta daya dukung lingkungan yang kurang memadahi.

Sumber daya alam sebagai modal dasar dalam pembangunan, memang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat banyak dengan cara-cara yang digunakan hendaknya dapat memelihara dan mengembangkan potensi alam tersebut.

 

  1. Masalah Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Menurut UU nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, pengertian pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya suatu zat atau komponen tertentu ke dalam lingkungan sehingga kualitas lingkungan menjadi turun yang menyebabkan lingkungan tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana peruntukannya.

Menurut Sastrawijaya(1991), polutan/zat pencemaran dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

  1. Zat pencemaran yang bersifat kuantitatif

Zat oencemaran ini terdiri atas unsur-unsur yang secara alamiah telah ada di dalam alam. Misalnya : karbon dioksida, paspor, dan nitrat.

  1. Zat pencemaran yang bersifat kualitatif

Zat ini terdiri atas senyawa-senyawa yang terjadi karena disengaja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalkan : pestisida, deterjen, dan pupuk buatan.

 

Pencemaran berdasarkan sifat dari zat pencemarnya :

  • Pencemaran fisik

Pencemaran yang diakibatkan oleh zat-zat yang berwujud padat, cair, maupun gas.

  • Pencemaran kimiawi

Pencemaran yang diakibatkan oleh zat-zat kikia.

  • Pencemaran biologis

Pencemaran yang diakibatkan oleh makhluk hidup.

 

Pencemaran berdasarkan tempat terjadinya :

1)      Pencemaran Udara

Pencemaran udara dapat terjadi karena faktor alam mupun karena campur  tangan manusia. Contoh faktor alam gunung meletus dan faktor manusia penggunaan CFC maupun kulkas.

2)      Pencemaran air

Pencemaran air merupakan masuknya bahan pencemaran yang melebihi batas ke badan air, seperti sungai, laut, atau bahkan sumur.

3)      Pencemaran tanah

Pencemaran tanah merupakan pencemaran yang menyebabkan kerusakan pada tanah, misalnya menurunnya tingkat kesuburannya dan sebagianya.

4)      Pencemaran Suara

Pencemaran suaraterjadi jika terdapat bunyi gaduh dengan kekuatan di atas 50 dB/desibel ( merupakan ukuran tingkat kebisingan).

 

Dampak Dari Pencemaran Lingkungan :

  1. Keracunan dan Penyakit

Pencemaran udara dapat mengakibatkan keracunan maupun penyakit pada paru-paru manusia. Selain itu, orang yang mengkonsumsi sayur, ikan, ataupun bahan makanan lain yang tercemar dapat mengalami keracunan, bahkan mengalami  rumahkerusakan hati, ginjal, menderita kanker, mengalami kerusakan susunan saraf, bahkan penyakit berbahaya lain.

  1. Punahnya spesies

Adanya polutan di biota darat maupun air dapat menyebabkan jenis hewan tertentu mengalami keracunan, kemudian mati.

  1. Terjadinya efek rumah kaca dan terbentuknya lubang ozon

Penggunaan CFC yang berlebihan maupun pencemaran dari proses pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor yang kurang sempurna.

  1. Ganguam keseimbangan lingkungan

Punahnya spesies tertentu dapat mengubah pola interaksi di dalam suatu ekosistem.

  1. Kesuburan tanah berkurang.

Pembuangan pencemaran ke tanah tentunya dapat mengakibatkan kesuburan tanah berkurang sehingga produktivitas lahan pun juga berkurang.

 

  1. Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan Hidup.

 

Pengelolaan lingkungan hidup diorientasikan pada tiga hal penting, yaitu :

  • Pengelolaan terhadap lingkungan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur sumber daya alam sebagai obyek,
  • Pengelolaan terhadap proses-proses yang berlangsung selama pemanfaatan sumber daya lingkungan, dan
  • Pengelolaan manusia sebagai subjek dalam pemanfaatan sumber daya lingkungan.

 

Pendekatan konseptual dalam melakukan pengelolaan liungkunan, yaitu :

  • Pengelolaan sumber daya lingkungan, yang dalam hal ini dipandang sebagai obyek yang perlu diatur pemanfaatanya.
  • Pengelolaan proses-proses fisik, kemis, dan biologis yang terdapat di dalam lingkungan, pendekatan pengelolaannya didasarkan pada teknologi yang tepat guna.
  • Pengelolaan lingkungan sebagai inventaris terhadap proses-proses sosial, ekonomis, dan politis.

 

 

Sumber :

 

Anif, Sofyan, dkk. 1999. Ilmu Alamiah Dasar. Surakarta: Muhammadiyah Universitas press.

Anonim. Biologi Umum II. Kelompok Kerja Yayasan Studi Kurikulum Biologi. Jakarta: Gramedia.

Sastrawijaya. 1991. Pengantar ke Filsafat Sains. Jakarta : PT Rinerka Cipta.

1997. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta : Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.

http://www.dephut.go.id

http://www.id.wikipedia.org

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH PERADABAN DAN PENCIPTAAN MANUSIA JAWA

SEJARAH PERADABAN MANUSIA DI PULAU JAWA, KHUSUSNYA DI JAWA BARAT

Peradaban merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah, dan maju. Misalnya perkembangan kesenian, iptek, kepandaian manusia, dan sebagainya dimana tiap bangsa di dunia memiliki karakter kebudayaan yang khas. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pendapat Koentjaraningrat(1990:182) dalam Nursyid(1996:67) sebagai berikut :“Disamping istilah “kebudayaan’ adapula istilah “peradaban”. Hal yang terakhir adalah sama dengan istilah Inggris civilization, yang biasanya dipakai untuk menyebutkan bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah, seperti misalnya: kesenian, ilmu pengetahuan , adat sopan santun pergaulan , kepandaian menulis, organisasi kenegaraan dan sebagainya. Istilah ‘peradaban” sering juga dipakai untuk menyebutkan suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan, da masyarakat kota yang maju dan kompleks.”

Pulau jawa secara administratif dibagi menjadi 3 bagian. Masing-masing bagian disebut provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tanah Jawa Barat secara geografis tak dapat dipisahkan dari pulau jawa secara keseluruhan. Berdasarkan penelitian peninggalan jaman prasejarah, asal usul penghuni yang pertama di Jawa Barat yaitu dengan ditemukan fosil-fosil pada lapisan-lapisan batu-batu kapur dan pada lapisan-lapisan laut pada zaman Pliocen (120.000 tahun – 600.000 tahun yang lalu). Meskipun kehadiran manusia purba di Jawa Barat masih merupakan perkiraan, namun hal ini diperkuat oleh ditemukannya bukti benda-benda sejarah berupa alat-alat yang diperkiraan pula berasal dari zaman yang sama. Benda tersebut berasal dari parigi dekat Pangandaran, Tasikmalaya dan di daerah Jambang. Daerah jawa barat pada kala yang sama telah dihuni oleh manusia Pithecanthropus Erectus da keturunannya. Namun demikian kemungkinan tentu tidak tertutup, bahwa daerah ini telah dihuni oleh manusia jenis lain.

  1. Zaman Paleolitik (Zaman Batu Tua)

Kebudayaan yang mempergunakan kapak batu genggam dinamakan kebudayaan paleolitik. Selain perkakasnya yang sederhana, penghidupan manusianya pun sangat sederhana. Mereka belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. Mereka mendapatkan makanan tergantung pada hasil alam. Dengan demikian mereka itu adalah manusia pengumpul hasil alam (food gathering) atau manusia peramu.

Manusia yang hidup pada kala ini mungkin telah memakai pakaian tetapi pakaian mereka itu jenis dan bahannya sangat sederhana bahannya terbuat dari kulit kayu atau binatang.

  1. Zaman Mesolitik (Zaman Batu Tengahan)

Zaman mesolitik menurut perkiraan berkembang sejak lebih kurang sepuluh ribu sampai empat ribu tahun yang lampau. Jenis manusia yang hidup pada zaman misolitik terdiri dari jenis manusia Austro-Melanesoid.

Zaman mesolitik telah ditemukan batu-batu perkakas seperti pisau kecil alat penusuk, penggaruk dan lain-lain. Mereka tinggal didalam gua-gua dan mungkin pula mereka itu tinggal di tepi pantai atau ditepi danau. Mereka telah mulai hidup menetap walau dalam taraf peralihan.

  1. Zaman Neolitik (Zaman Batu Baru)

Zaman ini menurut perhitungan mulai berkembang di Indonesia pada 1500 tahun sebelum masei.

Kehidupan setengah menetap, berburu dan menangkap ikan sesudah melewati waktu yang lama mulai ditinggalkan orang. Namun kejadian ini berlaku secara bertahap dan berangsur-angsur, tidak sekaligus. Setelah itu manusia itu mulai hidup menetap, dan mereka mulai bercocok taman. Pada zaman ini orang telah mengenal pacul, beliung atau perimbas, blincung, dan pahat. Benda-benda dari zaman neolitik jenisnya ada 3 macam, yaitu : Kapak lonjong, kapak persegi, dan kapak bahu. Kehidupan manusia pada zaman Neolitik telah menetap, mempunyai permukiman dan karenanya telah bermasyarakat dalam tata susunan yang teratur.

  1. Zaman Logam

Zaman batu baru yang makan wakyu beribu tahun, kemudian beralih kezaman baru yang mengenal penggunaan benda logam. Peralihan itu terjadi karena bertambahnya pengetahuan dan kepandaian manusia.

Zaman logam di negara kita dimulai dengan zaman perunggu. Dalam zaman perunggu manusia jawa barat telah mempunyai kepandaian menuang biji logam itu menjadi benda-benda dan perkakas yang diinginkan. Benda-benda diproduksi dalam bentuk kapak corong dan candrasa. Teknik menuang perunggu itu ada 2 macam yaitu bevalve dan tuangan acire perdue.

Perkembangan seni budaya manusia jawa barat pada masa Prasejarah digambarkan dalam beberapa hal sebagai berikut :

  1. Dinding batu sebuah tebing terdapat lukisan berupa goresan –goresan menyerupai jari-jari kaki binatang.
  2. Seni gosok benda perhiasan dan perkakas telah mulai dikerjakan orang juga, kendati adanya daya seni tersebut masih terselubungi oleh keadaan rahasia, gaib dan magis.
  3. Seni tuang perunggu, dimana logam perunggu diubah menjadi suatu benda perhiasan yang diinginkan.
  4. Seni hias, Seni hias gores sebenarnya telah berkembang semenjak manusia Jawa Barat berkenalan dengan benda-benda gerabah.
  5. Masyarakat pada zaman Prasejarah telah mengenal tari – tarian.
  6. Seni bangun.

Manusia di Jawa Barat pada zaman Prasejarah telah hidup menetap dan telah bercocok tanah. Kehidupan bercocok tanam mendekatkan manusia kepada adanya kepercayaan. Karena mereka berharap mendapatkan hasil yang baik. Harapan-harapan itu ditujukan kepada arwah-arwah ghaib.

Perkembangan zaman logam di Indonesia, khususnya di Jawa Barat telah membawa perjalanan sejarah manusia Jawa Barat menuju Gerbang kehidupan yang lebih maju. peninggalan-peninggalan yang bersifat sakral yang meliputi bangunan candi, seni pembuatan patung atau arca baik yang bersifat ciwa, wisnu maupun budha dan lain sebagainya. Peninggalan- peninggalan tersebut tersebar di beberapa tempat di seluruh Jawa Barat, walaupun penyebarannya tidak merata. Peninggalan semacam itu menunjukkan bahwa bermacam-macam aliran dari suatu sistem kepercayaan, dalam hal ini kepercayaan agama hindu yang telah berkembang di Jawa Barat.

Pada abad ke 16 di Jawa Barat tumbuh kota-kota pusat kekuasaan islam cirebon, jayakarta dan cirebon. Kota-kota tersebut berperan sebagai bandar-bandar terpenting yang membentuk jalinan perhubungan pelayaran, perekonomian, dan politik dengan demak sebagai pusat kekuasaan islam terbesar di Jawa. Pada zaman pengaruh islam, raja  dianggap sebagai tokoh yang menguasai masyarakat hidup dan dapat menghubungkannya dengan masyarakat ghaib. Ditinjau dari segi politik dan ekonomi kedudukan raja menempati tempat tertinggi dalam status sosial. Penggolongan masyarakat kota pada zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan islam di Jawa Barat dibagi atas: golongan raja-raja beserta keluarga; b. Golongan elite; c. Golongan non elite dan d. Golongan budak. Agama islam disebarkan melalui pendidikan dan pengajaran, yang disesuaikan dengan keadaan dan adat istiadat yang berlaku di Jawa Barat ( disesuaikan dengan kebudayaan Hindhu yang sebelumnya sudah berpengaruh) dan agama islam mudah diterima oleh rakyat Jawa Barat. Pengajaran agama islam yang berlaku di tanah Jawa khususnya di Jawa Barat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pengajaran yang diberikan di langgar-langgar dan dipesantren-pesantren. Mengenai kesenian, di Jawa Barat mempunyai sifat dan memberi corak sendiri yang khas pada bidang seni bangunan, seni ukir, maupun cabang-cabang kesenian lainnya. Hasil-hasil seni bangunan berupa masji-masji kuno, keraton dan makam-makam sultan. Selain seni bangunan, hasil seni dalam bidang kasustraan seperti babad, pantun, cerita rakyat, primbon dan lain-lain. Mengenai sistem pendidikan, dapat dikatakan bahwa pada mula-mulanya pemerintah penjajahan hanya mementingkan hal-hal yang berhubungan dengan keuntungan dan tidak memperhatikan kemajuan bangsa indonesia. Secara umum pusat pendidika hanya disekitar langgar dan pesantren.

Baru pada permulaan abad ke 19, pemerintah belanda mulai memikirkan tentang pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Gerakan agama mulai variasi yang luas dalam bentuk dan arah pertentangan dengan pranata-pranata sosial yang telah lama terbentuk.

Pada abad 20  Perkembangan Jawa barat khususnya bandung banyak menarik orang-orang berasal dari luar Jawa barat karena orang-orang dapat memanfaatkan segala sarana dan fasilitas untuk mencapai taraf kehidupan yang baik.  Sekolah-sekolah mulai didirikan sehingga masyarakat Jawa Barat khususnya mulai berkenalan dengan huruf Latin. Huruf latin lambat laun mulai diterima umum, sehinggga mendesak penggunaan aksara sunda dan huruf Arab. Masa pendudukan jepang yang berlaku selama kurang lebih tiga setengah tahun itu tidak besar pengaruhnya terhadap kesenian Indonesia umumnya dan Jawa Barat khususnya. Tetapi kesenian teater saja yang berkembang pada masa penjajahan jepang. Seni budaya Jawa Barat yang hidup atau berkembang pada masa kemerdekaan kebanyakan merupakan kelanjutan dari seni budaya sebelumnya. Kemajuan teknologi juga memberi kesempatan kepada masyarakat Jawa barat untuk melakukan komunikasi lebih intensif, baik dengan kesatuan-kesatuan masyarakat Jawa baratsendiri  maupun masyarakat yang ada diluar.

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH PENCIPTAAN MANUSIA JAWA

 

(Alkisah pada zaman itu) belum ada manusia, bahkan Gunung Mahameru belum ada di pulau Jawa. Adapun keberadaan Gunung Mandalagiri, yakni gunung yang besar dan tinggi itu, yang dijadikan contoh tersebut, (masih) berada di bumi Jambudipa (India). Oleh karena itu, pulau Jawa bergoyang-goyang, selalu bergerak-gerak, berguncang-guncang, sebab belum ada gunung Mandara, bahkan manusia. Oleh karena itu, Bhatara Jagatpramana berdiri, dia mencipta pulau Jawa bersama Bhatari Parameswari, sehingga terdapatlah Gunung Dihyang (Dieng), tempat Bhatara mencipta. Demikianlah ceritanya. Lama sekali Bhatara mengadakan ciptaan, dia memerintahkan Brahma Wisnu membuat manusia. Nah, tanpa membantah Brahma Wisnu membuat manusia. Tanah dikepal-kepalnya dan dibuat manusia yang sangat elok rupanya seperti rupa dewata. Manusia laki-laki dibuat oleh Brahma, manusia perempuan dibuat oleh Wisnu.

Manusia-manusia buatan Brahma Wisnu itu dipertemukan, mereka saling rukun bersama, saling kasih mengasihi. Lalu mereka beranak, bercucu, berlipat-lipat banyaknya, berkembang-biak, menjadi banyaklah jumlah manusia. Namun (mereka hidup) tanpa rumah, laki-perempuan telanjang di hutan, menaungi/melindungi anak-cucu, sebab belum ada pekerjaan yang dibuatnya, belum ada yang (dapat) ditirunya, tanpa celana, tanpa busana, tanpa selendang, tanpa kain panjang (basahan), tanpa ikat pinggang (kendit), tanpa kuncung, tanpa ikat kepala. Berucap tetapi tak tahu apa yang dikatakannya, tidak tahu artinya, daun-daunan dan buah-buahan dimakannya. Demikianlah asal-muasal manusia pada zaman purba.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kokoh S, dkk.1984. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta : DEPDIKBUD.

Nursyid Sumaatmadja.2002. Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi. Bandung : Alfabeta.

Suwarno,dkk. 2008. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Surakarta : BP-FKIP UMS

Tantu Pagelaran Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas.http://id.wikisource.org/w/index.php?title=Tantu_Panggelaran&oldid=25571/ diakses 22 Oktober 2011.

 

POLA BELAJAR SISWA SEKOLAH ALAM  DALAM

MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA

Studi Etnografi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Di Kabupaten Sragen

 

 

  1. A.      PENDAHULUAN
    1. 1.    Latar Belakang

Matematika menjadi satu hal yang tak terhindar dari diri kita. Baik dalam pembelajaran formal, non formal, maupun dalam praktis sehari – hari. Matematika menjadi bagian dari ilmu – ilmu lain, seperti fisika, biologi, kimia, astronomi, ekomoni, teknik, serta farmasi. Tidak aneh jika sekarang kita banyak menemukan kalkulator dan komputer dalam kinerja sehari – hari. Begitu pentingnya matematika sehingga pembelajaran matematika mengalami perkembangan dan disesuaikan denagn kebutuhan zaman.

Dalam KTSP, matematika masuk pada kelompok mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Untuk Sekolah Dasar, kelompok mata pelajaran ini dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan perilaku ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri.

Heruman (2007) menyebutkan dalam matematika, setiap konsep yang abstrak, yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan, agar mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa, sehingga akan melekat dalam pola pikir dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hafalan atau mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa. Pepatah Cina mengatakan, “ Saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya mengerti”

Kebiasaan siswa dalam menguasai mata pelajaran di sekolah, dipengaruhi oleh faktor tertentu. Faktor tersebut dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Sedangkan salah satu faktor internal yang turut berperan dalam keberhasilan siswa untuk menguasai mata pelajaran adalah pola belajar. Prestasi belajar siswa akan optimal apabila memahami perbedaan pola belajar yang baik dan pola belajar yang buruk. Siswa yang mempunyai pola belajar yang baik, akan mendapatkan prestasi belajar yang optimal, namun sebaliknya siswa yang mempunyai pola belajar yang buruk maka akan memdapatkan prestasi belajar yang kurang optimal. Kebiasaan belajar yang kurang baik, dapat diukur dari pola belajar yang dilakukan siswa. Pola belajar yang teratur dan berkesinambungan dapat menciptakan kebiasaan belajar yang baik, sedangkan pola belajar yang tidak teratur akan menciptakan kebiasaan belajar yang buruk.

Pendidikan kita belum mengajarkan kedewasaan dalam berpikir. Dari jenjang SD sampai Perguruan Tinggi, para pelajar terbiasa diajarkan menjawab pertanyaan guru/dosen, bukan belajar bertanya atau mempertanyakan berbagai pesoalan, sehingga hanya terbiasa menjawab pertanyaan tanpa memahami esensi dari pertanyaan.

Indonesia sebagai Negara yang berkembang berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, produktif serta sehat jasmani dan rohani. (UU RI no. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS). Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tersebut maka harus ada inovasi baru dalam dunia pendidikan untuk mengusahakan terwujudnya tujuan tersebut.

Sekolah alam merupakan salah satu bentuk pendidikan alternatif yang terinspirasi oleh alam serta menjadikan alam sebagai sumber belajar. Sejumlah sumber di internet menyebutkan bahwa sekolah alam lahir dengan harapan dapat mengembalikan nilai – nilai esensial manusia dalam menyatu dengan alam.

Sebagai sekolah alternatif, Sekolah Alam berbeda dengan kebanyakan sekolah konvensional. Dari bangunan sekolah saja, sudah terlihat perbedaannya. Anda akan melihat anak-anak tidak belajar di ruang kelas yang dikelilingi tembok beton tetapi di dalam saung bertingkat dua. Alamlah yang mengelilingi mereka, bukan tembok beton. Anda juga akan menjumpai anak-anak yang sedang riang melakukan kegiatan outbound, berkebun, dan bermacam aktivitas outdoor lainnya.

Pada dasarnya, sekolah alam juga mendasarkan kurikulumnya pada kuikulum umum yang ada di sekolah formal maupun sekolah swasta lainnya. Secara global, kurikulum tersebut mencakup penciptaan akhlak yang baik, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penciptaan pemahaman kepemimpinan yang memadai.

Di satu sisi, pola belajar dipengaruhi oleh kemampuan berpikir siswa, kreatif atau tidak. Sedangkan sekolah alam merupakan alternatif pendidikan dengan anak – anak kreatif. Maka, penelitian ini difokuskan untuk menjawab pertanyaan bagaimana pola belajar siswa sekolah alam dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. 2.    Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada “Bagaimana Pola Belajar Siswa SDIT Alam Nurul Fikri dalam Menyelesaikan Masalah Matematika?”. Fokus penelitian diuraikan menjadi empat sub fokus.

  1. Bagaimana pola belajar siswa SDIT  dalam memahami masalah matematika?
  2. Bagaimana pola belajar siswa SDIT dalam merencanakan pemecahan masalah matematika?
  3. Bagaimana pola belajar siswa SDIT dalam melaksanakan pemecahan masalah matematika?
  4. Bagaimana pola belajar siswa SDIT dalam menelaah kembali jawaban pemecahan masalah matematika
  5. 3.    Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola belajar matematika siswa SDIT dalam menyelesaikan masalah matematika.

b. Tujuan Khusus

  1. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam memahami masalah matematika
  2. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam merencanakan penyelesaian masalah matematika
  3. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam  melaksanakan penyelesaian masalah matematika
  4. Mendeskripsikan pola belajar siswa SDIT dalam mengecek ulang penyelesaian masalah matematika
  5. 4.    Manfaat penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Secara umum studi ini memberikan sumbangan teori tentang pola  belajar matematika. Telah diakui bahwa kebiasaan belajar yang tepat akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan hasil belajar.

Secara khusus, studi ini memberi urunan teori tentang pola belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. Manfaat Praktis

Pada tataran praktis, studi ini memberikan sumbangan kepada lembaga pendidikan baik formal maupun informal. Lembaga pendidikan dapat memanfaatkan studi ini untuk mengembangkan pola belajar matematika yang efektif, efisien, dan tepat sasaran. Pengembangan metode belajar ini digunakan untuk mengaplikasikan pengembangan pembelajaran matematika lebih lanjut.

  1. 5.    Definisi Istilah
    1. Sekolah Alam

Sekolah alam adalah sekolah yang menjadikan alam sebagai sumber belajar yang pada pelaksanaannya kegiatan belajar mengajar dilakukan di luar ruangan.

  1. Pola belajar

Pola belajar adalah cara belajar atau tahapan berpikir anak dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. Pemecahan Masalah Matematika

Sedangkan pemecahan masalah matematika adalah mengerjakan tugas-tugas  matematika yang cara menyelesaikannya belum diketahui sebelumnya, dan pemecahannya tidak dapat dilakukan dengan algoritma tertentu. Untuk menemukan pemecahannya siswa harus menggunakan pengetahuannya, dan melalui proses ini mereka akan mengembangkan pemahaman matematika baru.

  1. Proses Pemecahan Masalah matematika

Dalam memecahkan masalah ada beberapa tahap yang dilalui. Polya  menyarankan tahap-tahap tersebut sebagai berikut; (1) Memahami soal atau masalah; (2) Membuat suatu rencana atau cara untuk menyelesaikannya; (3) Melaksanakan rencana; (4) Menelaah kembali terhadap semua langkah yang telah dilakukan (Ruseffendi, 2006). Langkah terakhir ini sering disebut dengan pengecekan kembali.

  1. B.       LANDASAN TEORI
    1. 1.    Kajian Teori
      1. a.    Pengelolaan Sekolah Alam

Sekolah berbasis alam mengindikasikan satu hal: kegiatan belajar dilakukan dengan memaksimalkan eksplorasi terhadap alam lingkungan sekitar. Itulah mengapa sebagian besar aktivitas dilakukan di luar ruang. Siswa sesekali diajak langsung belajar di hutan, gunung, dan laut. Siswa tidak hanya dibekali teori, pelajaran dari buku atau belajar di dalam ruang kelas, tetapi mereka diajak langsung mengambil alam sebagai media belajar. Ketika belajar tentang biota laut, misalnya, siswa tidak hanya diajak melihat foto teripang yang ada di buku, tapi mereka melakukan outing ke Pulau Pari untuk bisa langsung melihat dan memegang teripang.

Santoso (2010:12), sekolah alternatif berbasis alam tentu mempunyai banyak perbedaan dengan sekolah formal. Namun bukan berarti tanpa kurikulum kompetensi. Sekolah alternatif berbasis alam tetaplah bernilai positif sebagai upaya menumbuhkan kemandirian sejak dini, membuka kesadaran kreatif seluas mungkin, serta memberikan pembelajaran tentang kerja sama.

Sebagai sekolah berbasis komunitas, penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Sekolah Alam Indonesia (SAI) tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru dan yayasan, tapi juga orangtua murid. Semua terlibat, semua turun tangan mengatasi berbagai kendala dan persoalan yang timbul. Semua peduli dengan pengembangan sekolah karena sekolah bukan ‘milik’ yayasan atau pribadi-pribadi tertentu, tapi milik komunitas.

Salah satu keunggulan konsep ini adalah terhindarnya sekolah dari tujuan lain selain dari tujuan pendidikan, misalnya tujuan mengambil keuntungan besar secara ekonomi bagi pemilik atau investornya. Setiap dana yang dimiliki SAI akan dikembalikan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, sehingga biaya yang harus dibayar para orangtua menjadi minimal. Kalaupun ada biaya yang lebih besar, itu karena adanya konsep meringankan biaya bagi anggota komunitas yang sedang mengalami kesulitan yang dipikul bersama oleh anggota komunitas lainnya yang dalam kelapangan rezeki.

Kelebihan – kelebihan sekolah alam :

  1. Sekolah alam cenderung membebaskan keinginan kreatif anak sehingga anak akan mampu menemukan sendiri bakat dan kemampuan berlebih yang dimilikinya.
  2. Konsep pembelajaran dengan cara sambil bermain menjadikan pemahaman mengenai sekolah bukanlah beban, melainkan hal yang menyenangkan.
  3. Metodologi pembelajaran yang diterapkan cenderung mengarah pada Pencapaian logika berpikir, inovasi, yang baik dalam bentuk action learning.
  4. Pengadaan buku – buku yang menunjang metodologi pembelajaran dengan rujukan dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
  5. Tidak hanya murid yang belajar, tetapi guru juga dituntut untuk selalu belajar.
  6. Hasil karya murid yang dipamerkan tiap satu semester ( enam bulan) sekali.
  7. b.   Penyelesaian Masalah Matematika

Dalam pembelajaran matematika, terdapat bebrapa pendekatan. Salah satunnya adalah pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Pendekatan pemecahan masalah menekankan pada pengajaran untuk berpikir tentang cara memecahkan masalah dan pemrosesan informasi matematika. Dalam menghadapi masalah matematika, khususnya soal cerita, siswa harus melakukan analisis dan interpretasi informasi sebagai landasan untuk menentukan pilihan dan keputusan.

Pemecahan masalah adalah pendekatan yang bersifat umum, maksudnya pendekatan yang biasa dipakai dalam pengajaran pada umumnya. Pendekatan umum itu seperti pemecahan masalah biasa diterapkan dalam pengajaran khusus seperti bidang studi, cabang bidang studi, atau topik bidang studi.

Matematika dapat dipecahkan dengan efektif dan efisien dengan kemampuan membaca dan bernalar. Pemecahan masalah dimulai dengan merumuskan, mengumpulkan informasi, mencari gagasan, merumuskan gagasan dalam langkah tindakan, memeriksa setiap langkah, menuliskan solusi, dan menafsirkan hasil yang diperoleh. Pemecahan masalah diharapkan membangun sifat ulet, rasa ingin tahu, dan percaya diri.

Penyelesaian masalah matematika adalah mengerjakan tugas-tugas  matematika yang cara menyelesaikannya belum diketahui sebelumnya, dan penyelesaiannya tidak dapat dilakukan dengan algoritma tertentu. Untuk menemukan penyelesaiannya siswa harus menggunakan pengetahuannya, dan melalui proses ini mereka akan mengembangkan pemahaman matematika baru. Pemecahan masalah matematika seperti halnya pemecahan masalah pada umumnya mempunyai berbagai interpretasi. Menurut Baroody (1993), ada tiga interpretasi pemecahan masalah yaitu: pemecahan masalah sebagai pendekatan (approach),  tujuan (goal), dan proses (process) pembelajaran. Pemecahan masalah sebagai pendekatan maksudnya pembelajaran diawali dengan masalah, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika. Pemecahan masalah sebagai tujuan berkaitan dengan pertanyaan mengapa matematika diajarkan dan apa tujuan pengajaran matematika.

  1. c.    Pola Belajar Siswa

Pola belajar siswa adalah kebiasaan belajar yang teratur dimulai dari cara mengikuti pelajaran, belajar mandiri di rumah, belajar kelompok, dan cara mempelajari buku pelajaran (Nana Sudjana, 2000:173).

  1. Cara mengikuti pelajaran

Cara mengikuti pelajaran di sekolah merupakan bagian penting dari proses belajar sebab dalam proses belajar tersebut, sebagai siswa diberikan arahan tentang apa dan bagaimana latihan pelajaran harus dikuasai. Ada beberapa cara bagaimana mengikuti pelajaran di sekolah:

1)        Baca dan pelajari bahan pelajaran yang telah lalu dan bahan yang akan dipelajari selanjutnya agar selalu siap menghadapi pelajaran, catat bebarapa hal yang belum dipahami untuk ditanyakan kepada guru saat pelajaran berlangsung.

2)        Periksa keperluan belajar sebelum anda berangkat ke sekolah, datanglah lebih cepat agar mendapat tempat paling depan sehingga lebih mudah komunikasi dengan guru.

3)        Konsentrasikan pikiran anda kepada pembahasan guru dan mendengarkan apa yang dijelaskan dengan penuh perhatian.

4)        Catatlah pokok – pokok bahasan guru pada kertas setelah anda menangkap maknanya.

5)        Ajukan pertanyaan pada guru apabila ada bagian yang belum jelas dan catat hal – hal penting dari jawabannya.

6)        Jika guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah, sebaiknya anda menghimpun diri dengan teman untuk membicarakan pokok – pokok tersebut.

  1. Cara belajar mandiri di rumah

Belajar mandiri di rumah adalah tugas paling pokok dari setiap siswa. Syarat utama belajar di rumah adanya keteraturan belajar.

Beberapa cara belajar mandiri di rumah :

1)        Buka dan pelajari kembali catatan hasil belajar di sekolah.

2)        Pada akhir catatan, rumuskan pertanyaan – pertanyaan dari bahan tersebut.

3)        Setiap pertanyaan yang anda buat, tulis pula pokok – pokok jawaban di balik halaman tersebut.

4)        Cara belajar berikutnya, anda tinggal melatih pertanyaan tersebut sampai anda menguasai. Bila belum menguasai pertanyaan tersebut, baca kembali catatan anda sehingga jawabannya betul – betul anda kuasai.

5)        Apabila masih ragu akan jawabannya, sebaiknya ajukan pertanyaan tersebut kepada guru saat pelajaran.

6)        Belajarlah pada saat tertentu yang paling memungkinkan bagi anda.

7)        Janganlah sekali – sekali anda memforsir belajar terus – menerus dalam waktu cukup lama.

  1. Cara belajar kelompok

1)        Pilih teman anda yang paling cocok bergabung dalam satu kelompok yang terdiri dari 3 – 5 orang.

2)        Tentukan dan sepakati bersama kapan, dimana, dan apa yang akan dibahas serta apa yang perlu dipersiapkan untuk keperluan diskusi tersebut. Lakukan secara rutin minimal satu kali dalam seminggu.

3)        Rumuskan pertanyaan atau pemasalahan yang akan dipecahkan bersama dan batasi ruang lingkupnya agar pembahasan tidak menyimpang.

4)        Bahas dan pecahkan setiap persoalan satu persatu sampai tuntas, dengan cara memberi kesempatan tiap anggota mengajukan pendapat.

5)        Kesimpulan hasil diskusi dicatat kepada anggota kelompok untuk dipelajari lebih lanjut di rumah masing – masing.

  1. Mempelajari buku teks

Buku adalah sumber ilmu, oleh karena itu membaca adalah keharusan bagi siswa. Kebiasaan membaca buku harus dibudidayakan dalam kehidupan anda terutama buku – buku ilmiah. Dengan membaca buku, anda akan lebih kaya dalam memahami bahan pelajaran yang diberikan guru.

Siswa yang mempunyai pola belajar baik, dalam belajarnya menggunakan cara – cara atau teknik atau metode belajar yang baik dan memperhatikan prinsip – prinsip belajar.

Beberapa ciri – ciri belajar siswa yang mempunyai pola belajar yang baik :

1)        Segera mempelajari kembali bahan yang telah diterima.

2)        Membaca dengan teliti dan betul.

3)        Sering menyelesaikan soal latihan.

4)        Belajar dengan teratur dan disiplin.

5)        Memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

6)        Menggunakan berbagai sumber media.

  1. d.   Teori Belajar Polya

Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai satu usaha mencari jalan keluar dari satu kesulitan guna mencapai satu tujuan yang tidak begitu mudah segera untuk dicapai, sedangkan menurut Utari (1994) dalam (Hamsah 2003) mengatakan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempunyai arti khusus, istilah tersebut mempunyai interpretasi yang berbeda, misalnya menyelesaikan soal cerita yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Polya (1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali semua langkah yang telah dikerjakan. Keempat tahapan ini lebih dikenal dengan See (memahami problem), Plan (menyusun rencana), Do (melaksanakan rencana) dan Check (menguji jawaban).

Gambaran umum dari kerangka kerja Polya:

  1. Pemahaman pada masalah (Identifikasi dari tujuan)

Pertama : membaca soalnya dan meyakinkan diri bahwa anda memahaminya secara benar. Tanyalah diri anda dengan pertanyaan :

  1. Apa yang tidak diketahui?
  2. Kuantitas apa yang diberikan pada soal?
  3. Kondisinya bagaimana?
  4. Apakah ada perkecualian?
  5. Membuat Rencana Pemecahan Masalah

Kedua : Carilah hubungan antara informasi yang diberikan dengan yang tidak diketahui yang memungkinkan anda untuk memghitung variabel yang tidak diketahui. Akan sangat berguna untuk membuat pertanyaan: “Bagaimana saya akan menghubungkan hal yang diketahui untuk mencari hal yang tidak diketahui? “. Jika anda tak melihat hubungan secara langsung, gagasan berikut ini mungkin akan menolong dalam membagi masalah ke sub masalah.

  1. Membuat sub masalah.

Pada masalah yang komplek, akan sangat berguna untuk membantu jika anda membaginya kedalam beberapa sub masalah, sehingga anda dapat membangunya untuk menyelesaikan masalah.

  1. Cobalah untuk mengenali sesuatu yang sudah dikenali.

Hubungkan masalah tersebut dengan hal yang sebelumnya sudah dikenali. Lihatlah pada hal yang tidak diketahui dan cobalah untuk mengingat masalah yang mirip atau memiliki prinsip yang sama.

  1. Cobalah untuk mengenali polanya.

Beberapa masalah dapat dipecahkan dengan cara mengenali polanya. Pola tersebut dapat berupa pola geometri atau pola aljabar. Jika anda melihat keteraturan atau pengulangan dalam soal, anda dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi dari pola tersebut dan membuktikannya.

  1. Gunakan analogi.

Cobalah untuk memikirkan analogi dari masalah tersebut, yaitu, masalah yang mirip, masalah yang berhubungan, yang lebih sederhana sehingga memberikan anda petunjuk yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang lebih sulit.

  1. Masukan sesuatu yang baru.

Mungkin suatu saat perlu untuk memasukan sesuatu yang baru, peralatan tambahan, untuk membuat hubunganantara data dengan hal yang tidak diketahui.Contoh, diagram sangat bermanfaat dalam membuat suatu garis bantu.

  1. Buatlah kasus

Kadang-kadang kita harus memecah sebuah masalah kedalam beberapa kasus dan pecahkan setiap kasus terbut.

  1. Mulailah dari akhir (Asumsikan Jawabannya)

Sangat berguna jika kita membuat pemisalan solusi masalah, tahap demi tahap mulai dari jawaban masalah sampai ke data yang diberikan

  1. Melaksanakan Rencana

Ketiga : Menyelesaikan rencana anda.

Dalam melaksanakan rencana yang tertuang pada langkah kedua, kita harus memeriksa tiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail untuk memastikan bahwa tiap langkah sudah benar. Sebuah persamaan tidaklah cukup!

  1. Lihatlah kembali

Keempat : Ujilah solusi yang telah didapatkan.

Kritisi hasilnya. lihatlah kelemahan dari solusi yang didapatkan (seperti: ketidakkonsistenan atau ambiguitas atau langkah yang tidak benar ). Pada saat guru menggunakan strategi ini, sebaiknya ditekankan bahwa penggunaan objek yang dicontohkan dapat diganti dengan satu model yang lebih sederhana, misalnya :

  1. Membuat gambar atau diagram.
  2. Menemukan pola
  3. Membuat tabel
  4. 4.    Memperhatikan semua kemungkinan secara sistematik
  5. Tebak dan periksa ( Guess and Check )
  6. 2.    Kajian Pustaka

Penelitian Maria (2010) menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat dalam proses pendidikan pemuda dan orang dewasa pada pembelajaran matematika merupakan suatu proses untuk mengkontekstualkan suatu permasalahan matematika dalam kehidupan sehari – hari. Untuk mengetahui karakteristik siswa, para pendidik dapat mengamati dari budaya matematika yang ditunjukkan oleh para peserta didik sewaktu pembelajaran matematika berlangsung. Ini akan mempengaruhi cara menentukan metode belajar, pemecahan masalah, pertimbangan, serta pengambilan keputusan yang tepat.

Dengan budaya matematika seperti yang dipraktekkan dengan pendidikan yang membebaskan, akan mampu menghasilkan suatu perspektif baru tentang matematika dalam pendidikan pemuda dan orang dewasa bahwa matematika bukanlah satu hal yang sulit, tetapi matematika adalah satu hal yang sering mereka temukan dan mereka gunakan dalam kehidupan sehari – hari, serta matematika dapat dipahami dan dipelajari dengan berbagai cara.

Dari hasil penelitian di atas, jika dihubungkan dengan pola belajar maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan cara belajar yang khusus bagi tiap individu untuk memahami dan menghargai matematika, terutama pada pemecahan masalah matematika dalam kehidupan sehari – hari.

Penelitian Hermawati (2010) dalam skripsinya memberikan kesimpulan bahwa (1) Kesiapan siswa dalam pembelajaran merupakan tolok ukur kemaksimalan pembelajaran siswa. (2) Terjadi hubungan timbal balik antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa. Kegiatan yang dilakukan, penataan tempat yang sesuai dengan keinginan siswa membuat siswa merasa senang dan tidak jenuh dalam pembelajaran (3) dengan adanya kompetisi atau persaingan yang sehat antara satu siswa dengan siswa yang lain serta hubungan baik dengan sesama dapat membangun suatu motivasi siswa untuk menunjukkan hasil prestasi yang maksimal.

Penelitian Mairina (2004) menyajikan kesimpulan bahwa (1) Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika dalam memecahkan masalah matematika antara siswa yang menggunakan tahapan polya dan siswa yang tidak menggunakan tahapan Polya yang ditunjukkan oleh hasil thit = 2,689 > ttabel = 1,645 dengan taraf signifikansi 5% dan rata – rata prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan tahapan polya lebih baik daripada rata – rata prestasi belajar matematika siswa yang tidak menggunakan tahapan Polya, yaitu 69,13 > 56,5, (2) pendekatan masalah dengan mengguanakan tahapan Polya dapat memberikan rangsangan kepada siswa untuk belajar terutama untuk menarik minat siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan, siswa juga terlatih untuk menyelesaikan masalah matematika secara lebih sistematis, sehingga pendekatan pemecahan masalah dengan tahapan Polya lebih baik unuk digunakan bagi siswa berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan belajar.

Penellitian Suryati (2004) menghasilkan salah satu kesimpulan yaitu ada hubungan positif antara pola belajar siswa dengan prestasi belajar matematika ditunjukkan oleh r = 0,372, t = 3,812, p = 0,173. Hal ini berarti bahwa pola belajar siswa mempunyai efek nyata terhadap capaian prestasi siswa. Siswa yang pola belajarnya tidak / kurang teratur kemungkinan besar prestasi yang diperolehnya rendah. Berbeda halnya dengan siswa yang rajin, prestasinya tinggi dan nilainya tinggi juga.

Penelitian Prasetyawati (2010) menyatakan semakin menarik penyajian matematika, maka semakin lama pula anak menikmati dan menginginkan kelas itu. Proses belajar yang penuh dengan suasana santai, yang tidak ada proses pemberian nilai dalam bentuk pemberian sebuah angka, namun pemberian penilaian yaitu dengan memberikan pujian, motivasi yang belum maksimal, dan selalu menerapkan pemahaman bahwa belajar adalah agar bisa, dengan tetap mengembangkan sifat jujur dan bekerja sama.

Penelitian Maria (2010) memfokuskan pada bagaimana budaya matematika mempengaruhi pengambilan keputusan tentang pemilihan metode belajar yang tepat untuk diterapkan pada pendidikan orang dewasa di Brasil. Penelitian Hermawati (2010) memfokuskan pada pengaruh kesiapan belajar siswa dengan kemaksimalan pembelajaran. Penelitian Mairina (2004) memfokuskan pada pengaruh penggunaan tahapan belajar Polya dalam pemecahan masalah matematika pada prestasi belajar matematika. Penelitian Suryati (2004) memfokuskan pada hubungan antara pola belajar dengan prestasi belajar matematika. Penelitian Prasetyawati memfokuskan pada budaya belajar matematika siswa sekolah gratis rumah pengetahuan amartya Yogyakarta. Sedangkan penulis pada penelitian ini akan fokus pada pola belajar siswa sekolah alam, sekolah dasar islam terpadu Nurul Islam Yogyakarta.

  1. C.      METODE PENELITIAN

Sugiyono (2008 : 133) menyatakan tujuan penelitian akan tercapai dengan baik kalau digunakan manajemen penelitian yang profesional. Manajemen yang professional adalah manajemen yang cerdas, yaitu manajemen yang mampu melaksanakan fungsi – fungsi manajemen secara konsisten dan berkesinambungan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen yang cerdas adalah manajemen yang bekerjanya berdasarkan keilmuan.

  1. 1.    Jenis Penelitian

Penelitian ini penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi etnografi. Penelitian deskriptif berarti penelitian ini berusaha menjelaskan atau mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian, yang terjadi pada saat sekarang. Dengan kata lain, penelitian ini memusatkan perhatian kepada masalah – masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan.

Penelitian ini dilakukan karena semakin meluasnya sekolah alam di Indonesia dengan strategi pembelajaran yang berbeda dari sekolah – sekolah lain di tengah upaya pemerintah dalam memperbaiki kurikulum pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Apakah siswa sekolah alam mampu mencerminkan pola belajar yang efektif untuk menyelesaikan masalah matematika sehingga mampu memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan untuk efektifitas pembelajaran matematika.

Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah pola belajar, yaitu bagaimana tahapan – tahapan atau kebiasaan – kebiasaan belajar siswa sekolah alam yang meliputi memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan perencanaan , dan menelaah kembali jawaban dalam dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. 2.    Lokasi dan Penelitian

Penelitian ini dimulai di bulan akan dilaksanakan di Sekolah Alam SDIT Nurul Islam tepatnya di Jalan Ringroad Barat Pundung Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta.

Penelitian ini dimulai bulan Oktober 2011 sampai bulan Desember 2011.

  1. 3.    Data, Sumber Data, dan Nara Sumber

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data mengenai pola belajar siswa sekolah alam dalam menyelesaikan masalah matematika. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara terhadap siswa putra dan putri dan hasil observasi terhadap siswa putra dan putri sekolah alam ketika pembelajaran matematika berlangsung serta pola belajarnya di luar dalam menyelesaikan masalah matematika di luar jam pelajaran. Data sekunder dalam penelitian ini berupa dokumen hasil penyelesaian soal cerita oleh siswa.

Sumber data dalam penelitian ini hanya yaitu sumber data manusia. Sumber data manusia adalah siswa – siswi Sekolah alam SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta.

Nara sumber dalam penelitian ini adalah guru matematika sebagai fasilitator pembelajaran matematika SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta.

  1. 4.    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian (Sugiyono, 2008 : 206). Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Wawancara yang digunakan adalah wawancara kualitatif. Artinya peneliti mengajukan pertanyaan – pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa, tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tentu saja, peneliti menyimpan cadangan masalah yang perlu ditannyakan kepada informan. Cadangan masalah tersebut adalah kapan menanyakannya, bagaimana urutannya, akan seperti apa rumusan pertanyaannya, dan sebagainya yang biasanya muncul secara spontan sesuai dengan perkembangan situasi wawancara itu sendiri (Patilima, 2007 : 65).

Observasi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang kebiasaan – kebiasaan yang dilakukan oleh siswa sekolah alam dalam pola belajarnya serta pengaruhnya pada penyelesaian masalah matematika. Marshall (1995) dalam Sugiyono (2008 : 226) menyatakan bahwa mlalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data melalui peninggalan tertulis pada arsip, buku – buku tentang pendapat, teori, dalil yang  berhubungan dengan masalah peneliti ( Margono, 2004 : 18). Data ini berupa hasil pekerjaan siswa kemudian dianalisis pola belajarnya dalam menyelesaikan masalah matematika.

  1. 5.    Kehadiran Peneliti

Peneliti secara langsung terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pengumpulan data, baik pada saat wawancara maupun observasi. Dalam hal ini peneliti sebagai instrument, selain itu peneliti bertindak sebagai siswa.

  1. 6.    Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman. Anallisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memmuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampapi tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel (Sugiyono, 2008 : 246)

Aktifitas dan analisis data yaitu Pengumpulan Data, Penyajian Data, Reduksi Data, dan Kesimpulan – kesimpulan penarikan atau verifikasi. Langkah – langkah analisis data ditunjukkan gambar berikut.

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Penyajian Data

Kesimpulan – kesimpulan  penarikan  / verifikasi

 

  1. 7.    Keabsahan Data

Data dalam penelitian ini disahkan melalui teknik Triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2006 : 256). Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik dan sumber data.

  1. D.      DAFTAR PUSTAKA

Agusnadi. 2010. ”Teori Belajar Polya”. http://mediateropongsiswa.blogspot.com. Diakses tanggal 5 Mei 2011

Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Hermawati. 2010. Perilaku Siswa Dalam Pembelajaran Matematika di Pondok Pesantren. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung:  PT Remaja Rosdakarya

Mairina, Upik. 2004. Penerapan Tahapan Belajar Polya dalam pemecahan Masalah Matematika pada Siswa Kelas II SMA Muhammadiyah Surakarta. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Maria da conceicao. (2010). Adult Education and Ethnomathematics : appropriating results, methods, and principles. ZDM Mathematics Education. Vol 42 hal 361-369.

Moleong, Lexy. 2006. Metode penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Prasetyawati, Pipin. 2010. Budaya Belajar Matematika Siswa Sekolah Gratis Rumah Pengetahuan Amartya Yogyakarta. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Santoso, Satmoko Budi. 2010. Sekolah Alternatif, Mengapa Tidak…?!. Yogyakarta : DIVA Press

Sugiarti. 2004. Interaksi Sosial, Rasa Tanggung Jawab, dan Pola Belajar Siswa Hubungannya dengan Hasil Belajar Matematika di SLTPN 2 Sukoharjo  Tahun Ajaran 2003 / 2004. Skripsi UMS : Tidak diterbitkan.

Sugiyono. 2008. Metode penelitan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

 

  1. PENDAHULUAN

Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan hubungan sosial diharapkan dapat memahami pengertian dan proses sosialisasi peserta didik.

Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang.

Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik. Baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat, nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi lebih akrab dengan lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat baik melalui persahabatan atau percintaan. Pada masa ini berkembangan sikap cenderung menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran, keinginan orang lain. Ada lingkungan sosial remaja (teman sebaya) yang menampilkan sikap dan perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan misalnya: taat beribadah, berbudi pekerti luhur, dan lain-lain. Tapi ada juga beberapa remaja yang terpengaruh perilaku tidak bertanggung jawab teman sebayanya, seperti : mencuri, free sex, narkotik, miras, dan lain-lain. Remaja diharapkan memiliki penyesuaian sosial yang tepat dalam arti kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi dan relasi baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Masa dewasa, yang merupakan masa tenang setelah mengalami berbagai aspek gejolak perkembangan pada masa remaja. Meskipun segi-segi yang dipelajari sama tetapi isi bahasannya berbeda, karena masa dewasa merupakan masa pematangan kemampuan dan karakteristik yang telah dicapai pada masa remaja. Oleh karena itu, perkembangan sosial orang dewasa tidak akan jauh berbeda kaitannya dengan perkembangan sosial remaja.

Dari hal-hal yang diuraikan di atas maka penyusun ingin membuat makalah dengan judul “Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik”.

 

 

  1. Pembahasan

 

  1. Hakekat Pertumbuhan dan perkembangan

Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang berkaitan dengan pertumbuhan biologis seseorang. Pertumbuhan adalah perubahan fisiologis sebagai hasil proses pematangan fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak sehat, berjalan pada suatu periode tertentu.

Perkembangan secara umum diartikan suatu perubahan aspek psikis dari kurang terdiferensiasi menuju deferensiasi, terarah, terorganisasi dan terintegrasi meningkat secara bertahap menuju kesempurnaan, dari samar-samar menuju ke yang lebih terang. Perubahan tersebut berlangsung terus dari yang sederhana menuju ke kompleks, hasil perkembangan sebelumnya diteruskan pada periode berikutnya..

Speaker(1996) dalam sunarto  dan Agung H(2007;38) mengemukakan dua macam pengertian yang berkaitan dengan perkembangan, yaitu :

  1. Ortogenetik, perkembangan sejak terbentuknya individu baru sampai dewasa.
  2. Filogenetik, perkembangan asal-usul manusia sampai sekarang.

 

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perekembangan

Pertama, faktor sebelum lahir. Kekurangan nutrisi pada ibu hamil, janin terkena virus HIV, keracunan dalam kandungan akan memmpengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang.

 

Kedua, faktor saat lahir. Proses kelahiran yang tidak normal misalnya dilakukan dengan bantuan tang(tabgver-lossing), tekanan dinding rahim ibu saat kelahiran sehingga berefek pada pusat sausunan saraf, dan atau kelahiran dengan pendarahan.

 

Ketiga, faktor sesudah kelahiran. Misalnya kecelakaan sehingga menimbulkan cacat jasmani, demikian juga pengalaman traumatik pada kepala.

 

Keempat, faktor psikologis misalnya bayi disengsarakan ibunya,orang tuanya meninggal. Anak-anak yang demikian akan memiliki kehampaan psikis, kering perasaan, sehingga menyebabkan kelambanan dalam perkembangan psikisnya.

 

  1. Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

Hukum-hukum tersebut Sunarto dan Agung Hartono(2007: 46-49) menulis sbb :

  1. Hukum Cephalocoudal

Bahwa dalam pertumbuhan fisik khususnya dimulai dari kepala ke arah kaki. Contoh : bayi menggunakan mulut, mata lebih cepat dari pada kaki, tangan.

  1. Hukum Proximodistal

Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang mengatakan bahwa pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ketepi. Alat-alat tubug di pusat (jantung, hati, paru-paru dll) berfungsi terlebih dahulu dari pada anggota tubuhnya.

  1. Perkembangan terjadi dari umum ke khusus.

Pada setiap aspek pertumbuhan dan perkembangan dimulai dari hal-hal yang bersifat umum, kemudian sedikit demi sedikit menuju ke hal yang khusus.

  1. Perkembangan berlangsung sesuai dengan tahap perkembangan

Dalam setiap perkembangan terjadi tahap-tahap perkembangan yang mesti dilalui oleh setiap aspek perkembangan. Pada umumnya para ahli membagi tahap-tahap perkembangan manusia sebagai berikut :

1)      Masa pralahir.

2)      Masa bayi (0-2 tahun)

3)      Masa kanak-kanak (3-5 tahun)

4)      Masa abak anak (6-12 tahun)

5)      Masa remaja (13-24 tahun)

  1. Masa awal remaja(13-15 tahun)
  2. Masa remaja ( 16-20 tahun)
  3. Masa akhir remaja(21-24 tahun)

6)      Masa dewasa(25-60 tahun)

  1. Masa awal dewasa(25-30 tahun)
  2. Masa dewasa (31-45 tahun)
  3. Masa akhir dewasa (46-60 tahun)
  4. Masa tua (61 tahun keatas)
  5. Masa lansia (71 tahun keatas)

e. Hukum tempo dan Irama Perkembangan

Tahap perkembangan berlangsung secara berurutan, terus menerus, tetap. Berlaku secara terus umum dalam suatu tempo dan irama perkembangan sesuai dengan irama masing-masing individu.

Gejala kelambatan perkembangan dapat dilihat pada:

1)      Jika pertumbuhan fisik jauh tertingal dengan bayi lain tanpa sebab khusus, maka dapat diupahami fisiknya tergangu.

2)      Jika kemampuan berbicara terlambat dibanding dengan anak lain pada masa perkembangan, diperkirakan fungsi fisiknya mengalami hambatan

 

Pentingnya memahami pertumbuhan dan perkembangan anak :

  1. Pada masa anak (umur SD) terjadi proses perkembangan yang cepat. Hal ini dapat kita lihat pada tahun pertama,pertumbuhannya akan terlihat begitu cepat.
  2. Kesan pertama/tanggapan awal akan berpengaruh lama dalam perkembangan anak. Ada ungkapan, kecil teranja-anja besar terbawa-bawa, belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air. Ungkapan ini menunjukkan bahwa apa yang diperoleh pertama akan menentukan perkembangan selanjutnya.
  3. Sesuatu yang kompleks dapat dianalisis dari yang sederhana. Contoh kalimat yang panjang mesti terdiri dari kalimat yng pendek.

 

 

Daftar Pustaka :

Hendri Agustin. 2001. Psikologi Perkembangan. Bandung: Aditama

Marsudi Saring,dkk.2008. Perkembangan Peserta Didik. Surakarta : UMS press.

Monk knoers. 1998.Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Reni Akbar.2001.Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Grasindo.

 

time

Kalender

Desember 2016
M S S R K J S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categoris

counter